— JAKARTA – Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menghadapi aksi jual signifikan dari investor asing sejak 9 September 2026. Pada perdagangan Selasa, 22 September 2026, investor asing melakukan aksi jual bersih (net sell) senilai Rp 101,44 miliar terhadap saham bank besar ini. Akibatnya, harga saham BBCA ditutup melemah 0,40% ke level Rp 6.200.

Perdagangan saham BBCA pada hari itu melibatkan 93,21 juta saham dengan frekuensi transaksi mencapai 22.311 kali, menghasilkan nilai transaksi keseluruhan Rp 579,94 miliar. Tren aksi jual oleh investor asing ini telah berlangsung konsisten sejak 9 September hingga 22 September, dengan total akumulasi net sell mencapai Rp 2,57 triliun. Dalam sepekan terakhir, harga saham BBCA mengalami pelemahan sebesar 3,12%.

BRI Danareksa Sekuritas (BRIDS) mengamati bahwa saham-saham bank besar, termasuk BBCA, menjadi sasaran aksi jual investor asing. Fenomena ini terjadi di tengah isu kenaikan suku bunga global (global rate hike).

BRIDS menjelaskan bahwa keputusan kenaikan suku bunga oleh bank sentral global, seperti Federal Reserve (Fed) sebesar 25 basis poin dan Bank of Japan (BOJ) sebesar 25 basis poin, telah meningkatkan tekanan risk-off. Kondisi ini mendorong investor asing untuk mengurangi eksposur mereka pada aset-aset di pasar negara berkembang (emerging market).

Next catalyst adalah Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia yang digelar pada 22–23 September. Keputusan mengenai BI Rate sebesar 5,75% menjadi perhatian pasar di tengah tekanan terhadap rupiah dan arus keluar dana asing (foreign outflow),” pungkas BRIDS dalam analisisnya.