— Harga emas terpantau bergerak terbatas pada perdagangan Selasa (22/9/2026), tertekan oleh ekspektasi suku bunga Amerika Serikat (AS) yang akan bertahan lebih tinggi dalam jangka waktu lebih lama. Para investor kini secara aktif menanti komentar dari pejabat Federal Reserve (The Fed) untuk mencari petunjuk mengenai arah kebijakan moneter selanjutnya.

Saat berita ini ditulis, harga emas tercatat hanya mengalami kenaikan tipis sebesar 0,07% ke level US$ 4.346,69 per ons troi. Sementara itu, kontrak berjangka emas AS menunjukkan pergerakan yang relatif stabil di angka US$ 4.383,65 per ons troi.

Secara tradisional, emas dikenal sebagai aset lindung nilai yang efektif terhadap inflasi dan risiko geopolitik. Namun, daya tarik logam mulia ini cenderung berkurang ketika suku bunga acuan berada pada level tinggi, karena investor memiliki alternatif aset lain yang menawarkan imbal hasil lebih menarik.

Dengan minimnya rilis data ekonomi penting dari AS pada pekan ini, perhatian pasar kini sepenuhnya beralih ke pernyataan para pejabat The Fed. Investor berupaya mencari sinyal apakah bank sentral AS masih terbuka terhadap kemungkinan kenaikan suku bunga lebih lanjut pada pertemuan bulan Oktober mendatang.

Kepala Riset Pepperstone, Chris Weston, menekankan bahwa harga minyak mentah menjadi salah satu faktor krusial yang perlu dicermati. Kenaikan harga komoditas ini berpotensi kembali meningkatkan tekanan inflasi.

“Jika minyak mentah berbalik naik dan membangun ekspektasi inflasi, hal itu hanya akan memperkuat narasi suku bunga tinggi dan emas kemungkinan terus menghadapi tekanan,” ujar Weston.

Kenaikan Suku Bunga The Fed

Pada pekan lalu, The Fed memutuskan untuk menaikkan suku bunga acuannya sebesar 25 basis poin. Bank sentral AS juga mengisyaratkan kemungkinan adanya kenaikan suku bunga lanjutan dalam beberapa bulan mendatang.

Presiden The Fed St. Louis, Alberto Musalem, bahkan menyatakan pandangannya bahwa The Fed kemungkinan perlu menaikkan suku bunga lebih jauh untuk menekan inflasi yang dipicu oleh permintaan yang kuat serta lonjakan harga komoditas yang kini meluas di luar sektor minyak.

Menurut Musalem, bank sentral akan lebih bijaksana jika bertindak lebih awal daripada menunda pengambilan keputusan.

Di sisi lain, perkembangan geopolitik global masih menjadi perhatian utama pasar. Kelompok Houthi dilaporkan berupaya merebut posisi strategis di Yaman yang dapat memutus akses pantai Laut Merah dari wilayah yang masih dikuasai oleh pasukan yang didukung oleh Arab Saudi.

Harga minyak mentah kembali menunjukkan tren kenaikan setelah sempat melemah dalam beberapa hari terakhir. Hal ini terjadi seiring dengan investor yang menunggu perkembangan potensi pembicaraan antara AS dan Iran di sela-sela Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pekan ini.

Sementara itu, di pasar logam lainnya, harga perak spot mengalami kenaikan sebesar 0,1% menjadi US$ 66,1 per ons. Di sisi lain, platinum justru mengalami penurunan sebesar 0,62% ke level US$ 1.793 per ons, dan palladium terpangkas 0,45% menjadi US$ 1.302,49 per ons.