DailyFX.ID — Lebih dari 1,5 juta warga di sepanjang pesisir timur China terpaksa dievakuasi ke tempat aman setelah Topan Dolphin menerjang kawasan tersebut pada Senin (10/8/2026). Badai dahsyat yang membawa hujan deras dan angin kencang ini melumpuhkan berbagai jalur transportasi darat, laut, hingga udara.
Menurut laporan China Daily yang dikutip Anadolu, evakuasi massal tersebut mencakup sekitar 900.000 warga di Kota Wenzhou dan 390.000 warga di Taizhou, Provinsi Zhejiang. Sementara itu, lebih dari 215.000 jiwa di wilayah rentan di Shanghai turut dipindahkan ke lokasi pengungsian.
Topan Dolphin tercatat sebagai topan ke-13 sekaligus yang terkuat melanda China pada tahun ini. Saat pertama kali mendarat di Yuhuan, Zhejiang, badai ini memicu angin kencang dengan kecepatan hingga 150 kilometer per jam. Topan kemudian bergeser ke Wenzhou sejam berikutnya sebelum akhirnya mereda menjadi badai tropis.
Lumpuhkan Transportasi dan Fasilitas Publik
Cuaca ekstrem ini berdampak serius pada sistem transportasi nasional. Di Shanghai, sekitar 1.000 penerbangan dibatalkan setelah operasional Bandara Hongqiao dan Bandara Internasional Pudong terganggu parah oleh badai.
Pemerintah Kota Shanghai juga menghentikan sementara operasional empat rute kereta bawah tanah (MRT), membatasi layanan di rute lainnya, serta menutup Jembatan Donghai dan belasan terowongan yang tergenang air.
Di sektor maritim, sebanyak 3.815 kapal ikan di Taizhou diperintahkan untuk segera bersandar di tempat aman. Seluruh operasional dari 18 rute feri penumpang di wilayah tersebut juga dihentikan total.
Ancaman Banjir Bandang dan Longsor
Otoritas meteorologi setempat memperingatkan warga untuk tetap waspada terhadap potensi banjir bandang dan tanah longsor seiring bergeraknya topan ke arah utara. Sebagian wilayah di Provinsi Zhejiang diproyeksikan mengalami curah hujan tinggi berkisar antara 250 hingga 500 milimeter dalam beberapa hari mendatang.
Hingga berita ini diturunkan, otoritas setempat melaporkan belum ada korban jiwa akibat terjangan topan tersebut. Namun, seorang anak laki-laki berusia sembilan tahun di Zhejiang dilaporkan hilang setelah tersapu ombak ke laut.
Kawasan pesisir timur China, khususnya Provinsi Zhejiang, Fujian, dan Kota Shanghai, secara geografis berada di lintasan utama badai tropis yang terbentuk di Samudra Pasifik Barat. Setiap tahunnya, antara Juli hingga Oktober, wilayah ini rutin menjadi titik pendaratan (landfall) topan tropis yang membawa dampak cuaca ekstrem berupa curah hujan tinggi dan gelombang pasang.
Seiring berjalannya waktu, intensitas dan frekuensi topan di wilayah ini cenderung meningkat akibat perubahan iklim global dan kenaikan suhu permukaan laut. Kondisi ini memaksa pemerintah China untuk terus memperkuat sistem peringatan dini, infrastruktur tahan badai, serta prosedur evakuasi massal secara cepat guna meminimalkan potensi korban jiwa dan kerugian ekonomi di kawasan pesisir yang padat penduduk.
Ikuti DailyFX.ID
