DailyFX.ID — JAKARTA – Terjadi transaksi saham PT Singaraja Putra Tbk (SINI) yang merupakan emiten dari Happy Hapsoro di pasar negosiasi Bursa Efek Indonesia (BEI) dengan nilai fantastis pada perdagangan Selasa (11/8/2026). Sebanyak 1.500.000 lot saham SINI ditransaksikan di pasar negosiasi BEI pada harga Rp 5.070 per saham, dengan total nilai transaksi mencapai Rp 760,5 miliar.
Hingga berita ini disusun, belum ada keterangan resmi yang dirilis mengenai transaksi besar saham Singaraja Putra di pasar negosiasi tersebut. Di pasar reguler BEI, saham berkode SINI terpantau melemah 0,71% ke level Rp 7.000. Hal ini mengindikasikan bahwa transaksi saham SINI di pasar negosiasi terjadi di bawah harga pasar reguler.
Pada sesi I hari yang sama, sebanyak 1,36 juta saham SINI telah diperdagangkan di pasar reguler dengan frekuensi 257 kali dan nilai transaksi mencapai Rp 9,56 miliar. Dalam sebulan terakhir, saham SINI sendiri menunjukkan tren pelemahan yang cukup signifikan, anjlok sebesar 11,39%.
Sebelumnya, Bursa Efek Indonesia (BEI) sempat meminta penjelasan dari PT Singaraja Putra Tbk (SINI) terkait keterbukaan informasi mengenai penandatanganan perjanjian jasa pertambangan batu bara dengan PT Petrosea Tbk (PTRO), emiten Prajogo Pangestu. BEI meminta jawaban atas estimasi ‘first cut’ untuk masing-masing tambang milik PT Pesona Bara Cakrawala (PBC) dan PT Cakrawala Bara Persada (CBP).
Direktur Utama Singaraja Putra, Amir Antolis, menjelaskan bahwa kegiatan ‘first cut’ diharapkan dapat dilaksanakan pada kuartal IV-2026 untuk PBC dan pada semester II-2027 untuk CBP. Pelaksanaan ini bergantung pada selesainya pembangunan akses jalan ke CBP dan pengesahan atas pengajuan RKAB tahun 2027.
Perjanjian jasa pertambangan antara Petrosea dengan PBC dan CBP mencakup pekerjaan pengupasan lapisan penutup serta penggalian batu bara di area tambang yang berlokasi di Kecamatan Kapuas Tengah, Kabupaten Kapuas, Provinsi Kalimantan Tengah. Durasi pekerjaan ini akan berlangsung sepanjang umur tambang (‘life of mine’).
Untuk PBC, estimasi produksi batu bara mencapai 42 juta ton yang dihasilkan dari pengupasan lapisan tanah penutup sebanyak 189 juta BCM. Estimasi total pendapatan atau omzet diproyeksikan sebesar US$ 2,604 miliar (untuk batu bara kalori GAR 4200), setara dengan Rp 45,570 triliun sepanjang masa kontrak. Sementara itu, untuk CBP, estimasi produksi batu bara sebanyak 8 juta ton dari pengupasan lapisan tanah penutup sebanyak 40 juta BCM. Estimasi total pendapatan mencapai US$ 656 juta (untuk batu bara kalori GAR 5000), setara dengan Rp 11,480 triliun sepanjang masa kontrak. Total estimasi pendapatan gabungan mencapai Rp 57,05 triliun.
BEI juga menanyakan dasar perhitungan estimasi pendapatan sebesar US$ 2,604 miliar untuk PBC dan US$ 656 juta untuk CBP. Amir Antolis menjawab bahwa perhitungan tersebut menggunakan asumsi harga pasar batu bara berdasarkan ICI yang disesuaikan dengan kualitas batu bara. Perhitungan estimasi pendapatan PBC sebesar US$ 2,6 miliar menggunakan asumsi proyeksi harga jual US$ 62 per ton, dan CBP sebesar US$ 656 juta menggunakan asumsi proyeksi harga jual US$ 82 per ton.
Infrastruktur dan Lahan
BEI kembali menanyakan kesiapan infrastruktur pendukung seperti ‘hauling’, pelabuhan/ ‘jetty’, dan ‘stockpile’ untuk mendukung target produksi PBC dan CBP. Amir Antolis menyatakan bahwa infrastruktur pendukung untuk ‘hauling road’ di segmen jalan menuju CBP telah mencapai progres 83,74% dan diproyeksikan selesai pada Februari 2027. Untuk segmen jalan PBC, pengerjaan sudah selesai dan saat ini dalam tahap ‘surfacing’.
“Pelabuhan dan ‘stockpile’ akan menggunakan fasilitas milik pihak ketiga. Saat ini fasilitas tersebut telah tersedia dan kapasitasnya masih sesuai dengan rencana produksi PBC dan CBP,” kata Amir dalam keterbukaan informasi yang dikutip Kamis (6/8/2026).
Terkait kendala pembebasan lahan, Amir mengungkapkan bahwa proses tersebut masih berlangsung sesuai rencana. Kendala utama meliputi klaim kepemilikan lahan yang tumpang tindih, proses negosiasi dengan pemilik lahan, dan verifikasi legalitas kepemilikan yang memakan waktu. Hingga saat ini, progres pembebasan lahan mencapai sekitar 45% untuk PBC dan 15% untuk CBP.
Amir juga menambahkan bahwa belum ada kontrak penjualan yang ditandatangani untuk hasil produksi PBC dan CBP. Perseroan saat ini sedang menjajaki kerja sama dengan beberapa pembeli yang memiliki kapasitas dan pengalaman di industri terkait.
Ikuti DailyFX.ID
