— Presiden Amerika Serikat Donald Trump dijadwalkan mendesak Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky untuk menyepakati gencatan senjata di sektor energi dengan Rusia. Pertemuan tingkat tinggi ini akan berlangsung di sela-sela Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York.

Trump menilai gelombang serangan pesawat nirawak atau drone Ukraina terhadap kilang minyak Rusia telah mengganggu pasokan bahan bakar dunia. Ia menyatakan sejumlah besar kilang diesel di Rusia mengalami kerusakan parah akibat ledakan, yang menyebabkan Rusia kehilangan kendali atas produksi bahan bakarnya.

Dampak dari gangguan pasokan energi ini berimbas langsung pada lonjakan harga bahan bakar global. Berdasarkan data American Automobile Association (AAA), harga eceran diesel di AS telah menembus angka lebih dari US$ 6,50 per galon untuk pertama kalinya. Angka ini diperparah oleh gangguan rantai pasok akibat konflik di Timur Tengah.

Menanggapi hal ini, Zelensky mengonfirmasi bahwa pihak Ukraina terus berdiskusi dengan pemerintah AS guna merumuskan langkah-langkah deeskalasi. Zelensky menegaskan keberlanjutan pasokan energi, infrastruktur kritis, dan ekspor pangan Ukraina harus dijamin agar kesepakatan deeskalasi dapat terwujud secara seimbang dari kedua belah pihak.

Di sisi lain, intensitas serangan di sektor energi masih tinggi. Ukraina baru-baru ini melancarkan serangan drone ke kilang minyak di pinggiran kota Moskow. Sebagai balasan, Kementerian Pertahanan Rusia dilaporkan tengah mempersiapkan serangan balasan berskala besar terhadap infrastruktur energi Ukraina menjelang masuknya musim dingin.

Konflik militer antara Rusia dan Ukraina yang berlangsung sejak awal 2022 telah berkembang menjadi perang gesekan yang berdampak signifikan pada rantai pasok energi global. Militer Ukraina secara intensif menargetkan kilang dan fasilitas pengolahan minyak di wilayah Rusia guna menekan sumber pendanaan perang Rusia.

Sebaliknya, pihak Rusia kerap merusak jaringan listrik dan infrastruktur energi Ukraina menjelang musim dingin. Ketegangan yang berlarut-larut ini memicu krisis pasokan bahan bakar dunia dan mendorong negara-negara Barat untuk mencari formula deeskalasi demi menjaga stabilitas harga energi global.