DailyFX.ID — Status bursa saham Vietnam yang naik ke kelompok emerging market Asia bukan hanya persoalan kaburnya modal asing dari Indonesia, tetapi juga menyangkut kredibilitas pasar saham nasional di tengah kesibukan otoritas berbenah. Vietnam kini menjadi pesaing ketat di kawasan ASEAN, sejajar dengan Indonesia, Malaysia, Filipina, dan Thailand.
Pengakuan atas akselerasi Vietnam datang dari penyedia indeks global, FTSE Russell, yang menempatkan negara tersebut di kelompok emerging market sejak Senin (21/9/2026). Sebelumnya, Vietnam berada di kelas frontier market.
Bobot Vietnam di emerging market Asia diproyeksikan mencapai sekitar 0,22-0,35% setelah dilakukan rebalancing proporsional dengan konstituen lainnya. Per 31 Agustus 2026, bobot Indonesia di FTSE Emerging Market Asia Pacific tercatat 0,88%, Malaysia 1,95%, Filipina 0,50%, dan Thailand 1,90%.
Struktur pembobotan ini akan berubah bertahap seiring meningkatnya kredibilitas bursa saham Vietnam. FTSE menyiapkan empat tahap inklusi bobot: 10% mulai 21 September 2026, naik menjadi 30% pada Maret 2027, meningkat lagi menjadi 65% pada Juni 2027, dan mencapai 100% pada September 2027. Dalam setahun ke depan, bursa saham Vietnam ditargetkan mencapai 100% dari sisi investability.
Desain ini merupakan hasil pemantauan FTSE terhadap bursa saham Vietnam sejak 2018. Selama itu, otoritas bursa saham Vietnam terus mereformasi hambatan, terutama terkait pre-funding requirement dan model global broker yang kerap menjadi kendala bagi investor asing di pasar ASEAN.
Otoritas RI Masih Berbenah
Sementara itu, otoritas bursa saham Indonesia masih disibukkan dengan perbaikan internal. Hingga Agustus 2026, MSCI masih membekukan kenaikan saham baru Indonesia sebagai konstituen indeks setidaknya hingga tinjauan Desember 2026. Meskipun demikian, MSCI mengakui perbaikan dalam transparansi yang dilakukan otoritas pasar modal RI, seperti kewajiban pengungkapan kepemilikan saham di atas 1% dan peningkatan pelaporan klasifikasi investor.
Pengamat Pasar Modal Budi Frensidy menilai, Indonesia perlu mewaspadai masuknya Vietnam ke emerging market karena persaingan dana investor asing akan semakin ketat. Sebagian dana yang mengikuti indeks FTSE otomatis akan beralih ke Vietnam, yang berpotensi menyebabkan rebalancing dari pasar emerging lain, termasuk Indonesia.
“Yang lebih penting justru dampak jangka panjangnya. Sekarang, Vietnam menjadi alternatif investasi yang semakin kredibel bagi perusahaan manajer investasi global,” ungkap Budi kepada Investor Daily, Selasa (22/9/2026).
Budi menambahkan, hal ini seharusnya menjadi wake-up call bagi Indonesia untuk terus memperbaiki likuiditas dan kemudahan akses investor asing. Kompetisi saat ini tidak hanya soal pertumbuhan ekonomi, tetapi juga kualitas dan investability pasar modal. “Bagi Indonesia, ancaman utamanya bukan capital outflow sesaat, melainkan kompetisi jangka panjang dalam memperebutkan alokasi dana emerging market global,” tegas Budi.
Persaingan Alokasi Dana Aktif
Kepala Riset KISI Sekuritas Muhammad Wafi berpendapat, persoalan bursa saham Vietnam dan Indonesia berbeda. Vietnam memperbaiki akses pasar, sementara Indonesia tersandung masalah integritas meski sudah lama berada di emerging market. Vietnam konsisten mengeksekusi reformasi, sedangkan Indonesia baru bereaksi setelah mendapat tekanan dari penyedia indeks global.
“Jadi, dampak jangka panjangnya akan lebih kepada persaingan porsi alokasi dana aktif ASEAN ketimbang arus keluar mekanis. Jika Vietnam naik ke MSCI Emerging Market pada 2028 bersamaan dengan turunnya Indonesia ke frontier market di MSCI, maka itu menjadi risiko besar karena akan menggeser alokasi secara struktural,” ujar Wafi kepada Investor Daily, Selasa (22/9/2026).
Wafi menambahkan, saham-saham berbobot besar dengan kepemilikan asing tinggi seperti BBCA, BBRI, BMRI, TLKM, ASII akan terimbas, namun guncangannya relatif kecil karena Vietnam masuk bertahap dengan bobot awal 10%. Estimasi total arus masuk ke Vietnam sekitar US$5-6 miliar yang dibagi dari seluruh pasar emerging.
“Investor jangan panik. Koreksi pasar saham saat ini lebih dikarenakan Fed hike dan ketidakpastian MSCI November. Untuk itu, akumulasi bertahap saham berkualitas dengan free float bersih seperti BBCA dan BMRI. Sebab, MSCI November akan tetap menjadi penentu arah, bukan upgrade Vietnam di FTSE,” tandasnya.
Analis Senior Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta melihat, saham yang paling sensitif terhadap sentimen masuknya Vietnam ke FTSE Emerging Market adalah sektor perbankan seperti BBCA, BMRI, BBRI, BBNI, dan sektor telekomunikasi seperti TLKM, termasuk beberapa saham komoditas dan consumer dengan kapitalisasi besar. Sebagai pembanding, Vietnam menunjukkan arus dana pasif akan terkonsentrasi pada saham-saham besar dan likuid seperti Vingroup, FPT, dan Hoa Phat.
“Penting bagi investor untuk mencermati apakah foreign selling di Indonesia benar-benar bersifat struktural atau hanya portofolio. Jika terjadi koreksi akibat sentimen regional tetapi fundamental emiten tetap solid, koreksi tersebut dapat menjadi kesempatan untuk mengakumulasi bertahap,” tutupnya.
Ikuti DailyFX.ID
