— JAKARTA – Legenda investasi dunia, Warren Buffett, menawarkan perspektif unik mengenai koreksi pasar saham. Berlawanan dengan investor pada umumnya yang panik saat harga saham anjlok, Ketua dan CEO Berkshire Hathaway ini justru melihat penurunan harga sebagai peluang berharga. Buffett menekankan bahwa momen tersebut sangat menguntungkan bagi investor yang berfokus pada akumulasi aset jangka panjang.

Dalam beberapa tahun terakhir, pelaku pasar telah terbiasa dengan tren pasar yang terus menguat. Koreksi yang terjadi kerap kali pulih dengan cepat, membuat sebagian investor mengabaikan risiko penurunan pasar. Namun, Buffett telah lama mengajarkan bahwa penurunan pasar tidak selalu berdampak buruk.

Dalam surat tahunannya kepada pemegang saham Berkshire Hathaway pada tahun 1997, Buffett menyatakan bahwa investor jangka panjang seharusnya mengharapkan kesempatan untuk membeli saham dengan harga diskon. Menurutnya, hanya mereka yang berencana menjual portofolio dalam waktu dekat yang perlu bergembira saat harga saham melonjak. Bagi investor yang masih dalam fase membeli atau mengumpulkan aset, penurunan harga justru lebih menguntungkan.

Pesan utama dari strategi ini adalah sederhana: ketika harga saham turun, teruslah membeli pada harga diskon dan hindari godaan untuk menjual karena panik.

Simulasi Keuntungan Membeli Saat Diskon

Secara matematis, penurunan harga memungkinkan investor untuk mengakumulasi lebih banyak unit saham dengan jumlah dana yang sama. Sebagai ilustrasi, bayangkan seorang investor mengalokasikan dana rutin sebesar US$ 700 setiap bulan untuk membeli reksa dana indeks Vanguard S&P 500 ETF.

Dalam kondisi pasar normal, ketika harga unit saham adalah US$ 700, alokasi dana bulanan tersebut hanya mendapatkan 1 unit saham. Namun, jika indeks S&P 500 mengalami penurunan sebesar 10% dan harga per unit turun menjadi US$ 630, dengan dana US$ 700 yang sama, investor kini dapat memperoleh 1,11 unit saham.

Tambahan unit saham yang diperoleh saat harga diskon ini akan ikut menikmati lonjakan nilai ketika pasar kembali pulih. Mengingat indeks S&P 500 secara historis selalu bangkit dari setiap koreksi dan mencetak rekor baru, akumulasi saham di harga murah menjadi kunci utama peningkatan imbal hasil jangka panjang.

Perbandingan Hasil Investor A dan Investor B

Untuk membuktikan efektivitas strategi ini, mari perhatikan perbandingan antara dua investor dengan alokasi modal yang sama sebesar US$ 1.400 saat menghadapi pergerakan pasar dari harga awal US$ 700, turun ke US$ 630, lalu kembali naik ke US$ 700.

Investor A, yang menunda pembelian saat pasar turun, hanya membeli satu unit di harga awal US$ 700. Saat pasar turun ke US$ 630, ia memilih menahan diri dan baru membeli satu unit lagi setelah harga kembali ke US$ 700. Hasilnya, Investor A memiliki dua unit saham dengan harga rata-rata US$ 700 per unit dan imbal hasil 0%.

Sementara itu, Investor B yang tetap konsisten, membeli satu unit di harga awal US$ 700. Saat harga turun ke US$ 630, Investor B tetap mengeksekusi pembelian dana rutinnya sehingga memperoleh 1,11 unit. Hasilnya, Investor B memiliki total 2,11 unit saham dengan harga rata-rata US$ 663,16 per unit dan mengantongi keuntungan sekitar 5,5% saat pasar kembali ke level awal.

Peringatan Buffett: Perangkap Emosional Investor

Strategi memanfaatkan penurunan harga hanya akan berhasil jika investor tetap disiplin melakukan pembelian sepanjang fase penurunan pasar. Tantangan terbesar bagi mayoritas pelaku pasar adalah ketakutan emosional bahwa penurunan 10% akan berlanjut menjadi kerugian 20% atau 30%, yang kerap mendorong keputusan untuk menjual aset di harga rendah.

Buffett mengingatkan agar penurunan pasar tidak dipandang sebagai kerugian pada portofolio yang ada, melainkan sebagai kesempatan emas untuk mengamankan harga beli yang lebih baik bagi investasi masa depan. Kunci keberhasilan investasi bukanlah menebak arah pergerakan pasar, melainkan memiliki rencana yang jelas dan mengeksekusinya secara konsisten.

Strategi yang disampaikan Warren Buffett berakar kuat pada prinsip value investing yang dipelajarinya dari sang mentor, Benjamin Graham. Dalam konsep ini, saham tidak dipandang sebagai secarik kertas yang diperdagangkan setiap hari, melainkan sebagai kepemilikan sebagian dari bisnis riil. Ketika harga pasar saham mengalami penurunan sementara nilai intrinsik perusahaan tetap solid, investor sejati menganggap kondisi tersebut seperti barang berkualitas yang sedang dipotong harga di toko ritel. Ketidakstabilan emosi dan kecenderungan untuk mengikuti arus pasar (market sentiment) sering menjadi penyebab utama kegagalan investor ritel mencapai hasil optimal dalam jangka panjang.