DailyFX.ID — Indeks-indeks saham Wall Street mengalami pelemahan signifikan pada perdagangan Rabu (23/9/2026), dipicu oleh lonjakan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah Amerika Serikat yang menembus angka 5%. Kenaikan ini memicu kekhawatiran investor mengenai kemungkinan The Fed masih akan menaikkan suku bunga acuan.
Indeks S&P 500 tercatat turun 0,75% menjadi 7.706,03. Indeks saham teknologi Nasdaq Composite juga mengalami pelemahan 1,13% ke level 26.936,04. Sementara itu, Dow Jones Industrial Average ambles 352,10 poin atau 0,68% ke posisi 51.511,59.
Pelemahan bursa saham AS terjadi setelah data Purchasing Managers’ Index (PMI) terbaru menunjukkan tekanan harga yang masih tinggi, yang kemudian mendorong kenaikan yield obligasi AS. Yield obligasi AS 10 tahun menembus 5,135%, level tertinggi sejak Juli 2007, dan mencatat kenaikan harian terbesar sejak 7 April 2025. Yield obligasi AS 2 tahun juga menyentuh 4,947%, level tertinggi sejak Mei 2024.
Kenaikan yield obligasi ini memberikan tekanan pada saham karena investor kembali memperhitungkan potensi suku bunga yang lebih tinggi dalam jangka waktu lebih lama. “Kami memiliki banyak kekuatan dalam laba perusahaan, tetapi di sisi lain ada tekanan inflasi. Keduanya sedang tarik-menarik,” ujar Head of US Equities Procyon, Massimo Santicchia.
Santicchia menambahkan bahwa tekanan inflasi tidak hanya berasal dari harga minyak, tetapi juga meluas ke sektor jasa. Kondisi ini membatasi ruang bagi The Fed untuk menurunkan atau mempertahankan suku bunga. Gubernur The Fed Michael Barr mengindikasikan bahwa penyesuaian kebijakan lebih lanjut kemungkinan masih diperlukan untuk mengendalikan inflasi. “Pertumbuhan ekonomi kuat dan pasar tenaga kerja solid, tetapi inflasi berada di atas target 2% dan belum menunjukkan tren menuju target dalam waktu yang tepat,” katanya.
The Fed Makin Panas
Perkembangan ini meningkatkan kembali taruhan pasar terhadap kenaikan suku bunga The Fed. Menurut CME FedWatch, probabilitas kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin pada Oktober meningkat menjadi lebih dari 66%, naik dari 55,4% sehari sebelumnya dan hanya 8,8% sebulan lalu.
Kenaikan yield juga terjadi bersamaan dengan kenaikan harga minyak mentah. Harga Brent untuk pengiriman November melonjak sekitar 3,9% menjadi US$ 103,08 per barel, sementara minyak West Texas Intermediate (WTI) naik 1,8% menjadi US$ 92,16 per barel.
Di tengah pergerakan pasar ini, investor juga mencermati perkembangan hubungan AS dan Iran. Presiden AS Donald Trump menyebutkan bahwa pejabat AS dan Iran telah bertemu selama tiga jam dan pertemuan tersebut berjalan sangat baik. Namun, Trump sebelumnya menyatakan dirinya menghadapi keputusan besar terkait kesepakatan dengan Teheran atau mengambil tindakan lebih keras.
Perdagangan sehari sebelumnya, Nasdaq sempat mencetak rekor intraday dan penutupan tertinggi, sementara S&P 500 bergerak relatif datar, dan Dow Jones berakhir lebih rendah.
Ikuti DailyFX.ID
