— Memasuki akhir tahun 2026, pergerakan imbal hasil (yield) Surat Utang Negara (SUN) diprediksi masih akan bergerak mendatar dengan kecenderungan untuk meningkat. Untuk SUN dengan tenor 10 tahun, yield diperkirakan berada dalam rentang 7,15% hingga 7,45%. Sementara itu, SUN tenor lima tahun diproyeksikan bergerak pada kisaran 7,00% hingga 7,25%.

Level 7,50% pada SUN tenor 10 tahun menjadi ambang batas penting yang perlu dicermati. Apabila yield bertahan di atas angka tersebut, tekanan terhadap biaya pembiayaan kembali (refinancing) serta premi risiko Indonesia berpotensi semakin terlihat jelas.

Menurut Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, kenaikan yield SUN di pasar domestik juga berkaitan erat dengan kebutuhan pembiayaan pemerintah yang masih cukup besar hingga akhir tahun ini. Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan melaporkan bahwa penarikan utang telah mencapai Rp 506 triliun per 31 Agustus 2026. Angka ini terbagi dalam Surat Berharga Negara (SBN) senilai Rp 527,4 triliun dan pinjaman yang tercatat negatif Rp 21,4 triliun. Realisasi tersebut dilaporkan masih sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan.

Meskipun demikian, kebutuhan penerbitan surat utang pada kuartal IV masih mengharuskan pemerintah untuk cermat dalam memilih waktu dan tenor penerbitan. Yusuf menjelaskan bahwa yield SUN 10 tahun yang menembus angka 7,30% mulai memberikan tekanan pada biaya utang. Dampaknya terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 dinilai masih relatif terkendali. Namun, kenaikan yield yang berlangsung lama akan terasa lebih signifikan pada tahun 2027, seiring masuknya biaya bunga dari penerbitan baru ke tahun-tahun berikutnya.

Oleh karena itu, pemerintah dinilai perlu menjaga fleksibilitas dalam strategi penerbitan dan tidak memaksakan tenor panjang ketika biaya pendanaan sedang tinggi. “Kalau yield bertahan tinggi, dampaknya bukan hanya terhadap lelang saat ini, tetapi juga terhadap biaya refinancing dan premi risiko ke depan,” ujar Yusuf kepada Investor Daily.

Di pasar sekunder, yield SUN tenor 10 tahun tercatat berada di kisaran 7,17%, sementara tenor lima tahun berada di sekitar 7,02%. Dengan mempertimbangkan kondisi pasar tersebut, yield pada lelang primer diperkirakan akan sedikit lebih tinggi. Untuk tenor lima tahun, yield lelang diprediksi berada di kisaran 7,05%-7,20%. Sementara itu, yield SUN tenor 10 tahun diperkirakan mencapai 7,20%-7,40%. Dengan demikian, level 7,40% menjadi salah satu titik yang perlu dicermati investor pada tenor 10 tahun jika tekanan eksternal terus berlanjut.

Tekanan terutama datang dari kenaikan yield US Treasury (UST) 10 tahun yang berada di sekitar 5% dan nilai tukar rupiah yang masih bertengger di kisaran Rp 17.700 per dolar AS. Kondisi ini meningkatkan tuntutan investor terhadap premi atau kompensasi yield saat membeli SUN di pasar primer. “Menurut saya, lelang SUN berikutnya masih cukup tertib, tetapi investor sekarang jauh lebih sensitif terhadap harga,” ujar Yusuf.

Daya tahan permintaan investor domestik tercermin dari lelang sebelumnya. Pada lelang SUN 1 September 2026, total penawaran yang masuk mencapai Rp 65,97 triliun, di mana pemerintah melelang sembilan seri SUN. Sementara itu, pada lelang 15 September 2026, nominal penawaran masuk tercatat sekitar Rp 60,96 triliun. Dalam rencana lelang tersebut, pemerintah menetapkan target indikatif Rp 32 triliun dengan target maksimal 150% dari target indikatif.

Dengan demikian, permintaan investor domestik masih menunjukkan ketahanan. Namun, besarnya penawaran yang masuk tidak serta-merta berarti pemerintah dapat menetapkan yield pada level rendah. “Likuiditasnya masih ada, tetapi pemerintah tidak bisa mengharapkan permintaan besar dengan yield yang terlalu rendah,” jelasnya.

Yusuf memperkirakan peluang penawaran masuk di atas Rp 60 triliun masih terbuka, berada di kisaran 50%-60%. Namun, kondisi ini dapat berubah apabila tekanan eksternal semakin kuat, khususnya jika rupiah mendekati level Rp 18.000 per dolar AS atau yield UST 10 tahun bertahan di atas 5%. Dalam skenario tersebut, penawaran masuk diperkirakan lebih realistis berada di kisaran Rp 50 triliun hingga Rp 62 triliun.

“Faktor penentunya bukan hanya Treasury, tetapi kombinasi rupiah, likuiditas domestik, dan strategi pemerintah dalam menentukan volume serta yield penerbitan,” tuturnya. Pemerintah sendiri memiliki ruang untuk menyerap SUN sesuai target lelang. Namun, strategi penerbitan perlu memperhatikan keseimbangan antara kebutuhan pembiayaan dan biaya dana yang harus ditanggung. “Pemerintah masih punya ruang untuk menyerap sesuai target, tetapi perlu menjaga harga agar investor institusi tetap nyaman masuk,” ujarnya.

Tekanan dari pasar global memang meningkat. Pada 14 September 2026, yield UST 10 tahun sempat menembus 5% dan mencapai sekitar 5,01%, level yang menjadi perhatian investor global. Kenaikan tersebut dipengaruhi oleh ekspektasi suku bunga AS yang tetap tinggi, tekanan inflasi dari kenaikan harga minyak, serta kekhawatiran terhadap kondisi fiskal AS. Pada 16 September, Federal Reserve juga meningkatkan suku bunga acuannya sebesar 25 basis poin menjadi 3,75%-4%.