DailyFX.ID — Imbal hasil atau yield Surat Utang Negara (SUN) untuk tenor 5 hingga 10 tahun diproyeksikan akan bergerak stabil, bahkan cenderung turun tipis pada lelang pekan depan. Stabilitas ini didukung oleh permintaan yang kuat dari investor domestik dan likuiditas perbankan yang memadai.
Ekonom CORE Indonesia, Yusuf Rendi Manilet, menyatakan bahwa yield SUN tenor 5-10 tahun saat ini berada di kisaran 7,22%-7,30%. Level ini dinilai sudah cukup mencerminkan penyesuaian terhadap kenaikan yield surat utang pemerintah Amerika Serikat (US Treasury) yang masih di atas 4,6%. “Yield SUN tenor 5 hingga 10 tahun saat ini berada di kisaran 7,22% – 7,30% dan menurut saya level tersebut sudah cukup mencerminkan penyesuaian terhadap kenaikan yield global, terutama US Treasury yang masih berada di atas 4,6%,” ujar Yusuf.
Menurut Yusuf, kondisi domestik yang relatif kuat, ditopang oleh likuiditas perbankan, investor institusi, dan kebijakan Bank Indonesia (BI), membuat yield SUN berpeluang terhindar dari kenaikan tajam pada lelang mendatang. “Jika melihat kondisi domestik yang relatif kuat, saya melihat yield pada lelang mendatang cenderung bergerak stabil dengan peluang turun tipis, bukan mengalami kenaikan tajam,” jelasnya.
Permintaan SUN Masih Kuat
Yusuf menilai minat investor terhadap SUN masih cukup tinggi. Hal ini terlihat dari hasil lelang SUN pada 4 Agustus 2026 yang mencatat total penawaran lebih dari Rp 70 triliun, dengan total nominal yang diserap pemerintah sekitar Rp 32 triliun. “Tingginya penawaran tersebut menunjukkan appetite investor terhadap instrumen surat utang pemerintah masih terjaga,” katanya.
Dengan tingkat yield SUN yang masih menarik dibandingkan BI Rate sebesar 5,75%, pemerintah dinilai masih memiliki ruang untuk memperoleh permintaan yang solid tanpa harus memberikan premi yield terlalu besar kepada investor. Kendati demikian, Yusuf mengingatkan risiko pergerakan nilai tukar rupiah. Rupiah yang masih berada di kisaran Rp 17.800 – Rp 17.900 per dolar AS berpotensi membuat investor meminta tambahan yield sebagai kompensasi atas risiko nilai tukar. “Namun, volatilitas rupiah di kisaran Rp 17.800 sampai Rp 17.900 per dolar AS tetap menjadi risiko yang perlu diperhatikan karena dapat membuat investor meminta tambahan yield,” tuturnya.
BI Menjadi Faktor Kunci
Lebih lanjut, Yusuf menilai kebijakan BI menjadi salah satu faktor paling menentukan arah pasar SUN dalam waktu dekat. Kemampuan bank sentral menjaga stabilitas rupiah dan memastikan kecukupan likuiditas domestik dinilai dapat membatasi dampak sentimen global terhadap pasar surat utang Indonesia.
Ekspektasi terhadap kebijakan The Fed tetap perlu diperhatikan, terutama apabila data ekonomi AS kembali memperkuat pandangan hawkish. Namun, Yusuf menilai pengaruh faktor global terhadap SUN tidak akan sebesar kemampuan investor domestik dalam menyerap penerbitan surat utang pemerintah. “Selama BI mampu menjaga stabilitas rupiah dan memastikan likuiditas domestik tetap memadai, pengaruh sentimen global terhadap SUN seharusnya relatif terbatas,” ujarnya.
Asing Berpeluang Kembali Masuk
Dari sisi investor asing, Yusuf melihat masih terdapat peluang terjadinya arus dana masuk atau inflow ke pasar SBN apabila rupiah mulai stabil dan tingkat yield tetap menarik. Saat ini, porsi kepemilikan asing di pasar SBN diperkirakan masih berada di kisaran 12%-13%. Level tersebut memberikan ruang bagi investor asing untuk kembali meningkatkan eksposurnya terhadap surat utang domestik.
Namun, ia tidak melihat ruang penurunan yield yang terlalu besar dalam waktu dekat. Dalam skenario optimistis, yield SUN dapat turun sekitar 10-20 basis poin apabila arus dana asing kembali masuk secara signifikan. “Base case saya, yield mungkin turun sekitar 10 sampai 20 basis poin jika inflow cukup kuat, tetapi skenario yang lebih realistis adalah stabil dengan bias turun tipis,” kata Yusuf.
Di sisi lain, investor asing masih memiliki alternatif instrumen domestik lainnya, salah satunya Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI). Instrumen tersebut dinilai menawarkan yield yang kompetitif dengan risiko durasi yang lebih rendah dibandingkan SUN tenor menengah dan panjang. Dengan demikian, hasil lelang SUN pekan depan diperkirakan masih akan ditentukan oleh keseimbangan antara tingginya permintaan domestik, stabilitas rupiah, pergerakan yield US Treasury, serta potensi kembalinya investor asing ke pasar SBN.
Ikuti DailyFX.ID
