— Bank Indonesia (BI) melaporkan posisi cadangan devisa pada Juli 2026 tercatat sebesar US$145,3 miliar. Angka ini mengalami penurunan sekitar US$300 juta dibandingkan bulan sebelumnya yang berada di angka US$145,6 miliar. Penurunan ini disebabkan oleh pembayaran utang luar negeri pemerintah serta kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah di tengah ketidakpastian pasar keuangan global.

Posisi cadangan devisa tersebut masih memadai, setara dengan pembiayaan 5,5 bulan impor atau 5,3 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah. Angka ini juga berada di atas standar kecukupan internasional yang disyaratkan, yaitu sekitar 3 bulan impor. Ke depan, ketahanan sektor eksternal dinilai tetap terjaga baik, didukung oleh cadangan devisa yang memadai dan aliran masuk modal asing sejalan dengan persepsi positif investor terhadap prospek perekonomian nasional serta imbal hasil investasi yang menarik.

Pada penutupan perdagangan Jumat (7/8/2026), nilai tukar rupiah terhadap dolar AS menguat 26 poin atau 0,15% ke level Rp17.897 per dolar AS, dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp17.923 per dolar AS. Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia pada hari yang sama juga tercatat menguat ke level Rp17.913 per dolar AS dari sebelumnya Rp17.919 per dolar AS.

Kepala Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, menjelaskan bahwa penerimaan pajak dan jasa serta penerbitan surat utang global (global bond) pemerintah turut memengaruhi posisi cadangan devisa. “Bank Indonesia menilai cadangan devisa tersebut mampu mendukung ketahanan sektor eksternal, serta menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan,” ujar Ramdan pada Jumat (7/8/2026).

Ramdan menambahkan bahwa BI terus berupaya meningkatkan sinergi dengan pemerintah dalam memperkuat ketahanan eksternal guna menjaga stabilitas perekonomian demi mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

Analisis Peneliti Core Indonesia

Peneliti Center of Reform on Economics (Core) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, menyatakan bahwa tren penurunan cadangan devisa dalam beberapa bulan terakhir perlu dicermati, meskipun belum mengindikasikan kondisi yang mengkhawatirkan. Pasar cenderung lebih sensitif terhadap penurunan cadangan devisa yang terjadi secara terus-menerus, terutama jika dibarengi dengan pelemahan rupiah yang tajam dan peningkatan premi risiko.

Menurut Yusuf, penurunan cadangan devisa secara nominal masih relatif kecil. Namun, konteksnya tetap penting untuk diperhatikan. Di satu sisi, penerimaan pajak, jasa, dan penerbitan global bond pemerintah memberikan tambahan devisa. Di sisi lain, Bank Indonesia menggunakan sebagian devisa untuk pembayaran utang luar negeri pemerintah dan intervensi di pasar valas demi menjaga stabilitas rupiah di tengah ketidakpastian global.

“Jadi, penurunan ini menunjukkan bahwa cadangan devisa memang sedang digunakan sebagai buffer untuk meredam tekanan, meskipun belum bisa dikatakan terkuras secara agresif,” tutur Yusuf.

Penggunaan Cadangan Devisa Masih Wajar

Yusuf berpendapat bahwa penggunaan cadangan devisa untuk menjaga stabilitas rupiah masih tergolong wajar, selama posisinya tetap berada di atas tingkat kecukupan yang dipersyaratkan. Dengan cadangan devisa yang masih setara lebih dari lima bulan impor, Bank Indonesia masih memiliki ruang yang cukup untuk melakukan stabilisasi.

Namun, strategi ini tidak bisa hanya mengandalkan cadangan devisa. Selama surplus perdagangan dan aliran modal asing masih cukup kuat, tekanan terhadap nilai tukar relatif dapat dikelola. “Masalahnya akan muncul jika terjadi capital outflow yang besar atau defisit transaksi berjalan melebar, karena kebutuhan intervensi akan meningkat dan cadangan devisa bisa tergerus lebih cepat,” kata Yusuf.

Dalam kondisi tersebut, Bank Indonesia perlu mengombinasikan intervensi valas dengan instrumen kebijakan lain, termasuk kebijakan suku bunga dan makroprudensial. Untuk sisa tahun 2026, Yusuf memprediksi cadangan devisa berpeluang bergerak di kisaran US$143 hingga US$148 miliar, dengan asumsi kondisi global tidak mengalami perburukan yang signifikan. Faktor utama yang akan memengaruhi adalah neraca perdagangan, arus modal asing, pembayaran utang luar negeri, dan kebutuhan intervensi untuk menjaga rupiah.

“Kalau aliran modal masih masuk dan tekanan terhadap rupiah relatif terkendali, posisi cadangan di atas US$145 miliar masih cukup mungkin dipertahankan. Sebaliknya, eskalasi geopolitik atau kebijakan moneter Amerika Serikat yang lebih ketat bisa meningkatkan tekanan dan mempercepat penurunan cadangan,” ungkap Yusuf.

Proyeksi Bank Permata

Kepala Departemen Riset Makroekonomi dan Pasar Keuangan Bank Permata, Faisal Rachman, memperkirakan cadangan devisa masih akan menghadapi tekanan di tengah berlanjutnya sentimen risk-off global dan upaya BI menjaga stabilitas rupiah. Prospek ke depan, menurutnya, akan sangat ditentukan oleh perkembangan geopolitik serta arah pergerakan defisit kembar (twin deficits) Indonesia.

“Secara keseluruhan, kami memproyeksikan cadangan devisa Indonesia akan menurun menjadi US$143–147 miliar pada akhir 2026, dari US$156,47 miliar pada akhir 2025. Kami juga mempertahankan proyeksi nilai tukar rupiah pada akhir 2026 berada di kisaran Rp17.800–18.000 per dolar AS,” tutur Faisal.

Faisal menambahkan bahwa dari sisi neraca transaksi berjalan (current account), terdapat risiko penurunan terhadap neraca perdagangan Indonesia. Risiko ini terutama didorong oleh agenda kebijakan pemerintah yang berorientasi pada pertumbuhan, yang diperkirakan akan mempertahankan kuatnya permintaan domestik dan mendorong pertumbuhan impor.

Di sisi lain, pertumbuhan ekspor diperkirakan akan kembali normal setelah percepatan pengiriman ekspor pada tahun sebelumnya untuk mengantisipasi penerapan tarif resiprokal. Selain itu, melemahnya permintaan global, khususnya dari China, serta ketidakpastian yang masih berlanjut terkait ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan perang dagang global diperkirakan akan menekan kinerja ekspor. “Sejalan dengan itu, kami memperkirakan defisit transaksi berjalan akan melebar menjadi 1–2% dari PDB pada 2026, dibandingkan 0,11% dari PDB pada 2025,” ucap Faisal.

Dari sisi neraca transaksi finansial (financial account), arus modal portofolio diperkirakan tetap rentan terhadap ketidakpastian global maupun domestik, meskipun sentimen sempat membaik seiring penurunan harga minyak dunia akibat kemajuan dalam perundingan perdamaian antara Amerika Serikat dan Iran. Secara keseluruhan, selera risiko (risk appetite) investor masih relatif rapuh.

Di tingkat domestik, kekhawatiran terhadap defisit kembar semakin meningkat, mencerminkan risiko pelebaran baik defisit transaksi berjalan maupun defisit fiskal di bawah kerangka kebijakan pemerintah yang berorientasi pada pertumbuhan dan semakin mengandalkan kebijakan fiskal sebagai penyangga siklus ekonomi (countercyclical buffer).

Meskipun penurunan harga minyak dapat sedikit meredakan tekanan tersebut, sentimen investor diperkirakan tetap berhati-hati. “Akibatnya, arus masuk portofolio diperkirakan tetap terbatas, nilai tukar rupiah masih berpotensi berfluktuasi, dan BI kemungkinan akan terus memanfaatkan cadangan devisanya untuk menjaga stabilitas nilai tukar dalam jangka pendek hingga menengah,” terang Faisal.

Dalam jangka menengah hingga panjang, keberlanjutan arus masuk modal akan sangat bergantung pada efektivitas implementasi reformasi struktural yang mampu memperkuat fundamental makroekonomi Indonesia, meningkatkan kepercayaan investor, serta memperbaiki iklim investasi. “Faktor eksternal, termasuk perkembangan ketegangan perdagangan global dan risiko geopolitik, khususnya di Timur Tengah, juga akan tetap menjadi penentu utama dinamika arus modal,” pungkas Faisal.