— Investor asing kembali melakukan aksi jual bersih atau net sell di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Selasa (22/9/2026), dengan total nilai mencapai Rp 131,7 miliar di seluruh pasar. Akibatnya, total net sell asing sepanjang tahun berjalan ini bertambah menjadi Rp 75 triliun, berdasarkan data BEI.

Saham-saham yang paling banyak dilepas oleh investor asing di pasar reguler adalah PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) dengan net sell sebesar Rp 339,4 miliar. Selain itu, saham PT Timah Tbk (TINS) juga mengalami penjualan bersih oleh asing senilai Rp 110,7 miliar, diikuti oleh PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dengan net sell Rp 101,4 miliar.

Di sisi lain, transaksi beli bersih atau net buy terbanyak oleh investor asing dicatatkan pada saham PT Triputra Agro Persada Tbk (TAPG). Meskipun demikian, nilai net buy pada saham TAPG relatif tidak signifikan, yaitu sebesar Rp 36,89 miliar.

Sementara itu, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada penutupan pasar hari ini mengalami pelemahan yang cukup dalam, ditutup ambles 107,6 poin atau 1,69% ke level 6.277. Dari total saham yang diperdagangkan, sebanyak 148 saham menguat, 556 saham melemah, dan 259 saham stagnan. Total nilai transaksi mencapai Rp 13,9 triliun.

Hanya satu sektor saham yang berhasil menguat pada penutupan pasar hari ini, yaitu sektor barang konsumen non-primer yang naik tipis 0,3%. Sebaliknya, pelemahan melanda sektor energi yang turun 2,7%, sektor perindustrian 2,3%, sektor properti 2%, sektor barang baku 1,9%, dan sektor teknologi 1,59%. Sektor barang konsumen primer melemah 1,4%, sektor transportasi 1,3%, sektor keuangan 0,8%, sektor kesehatan 0,7%, dan sektor infrastruktur 0,6%.

Menurut Pilarmas Investindo Sekuritas, pelemahan IHSG hari ini terjadi di tengah sikap investor yang cenderung mengambil posisi wait and see sambil menunggu arah kebijakan moneter Bank Indonesia (BI). Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI dijadwalkan berlangsung pada 22-23 September 2026, dan pasar memperkirakan suku bunga acuan akan tetap dipertahankan.

Tekanan lain yang turut memengaruhi pasar adalah perubahan status Vietnam oleh FTSE Russell dari frontier market menjadi emerging market. Kenaikan status ini berpotensi mendorong masuknya dana asing ke pasar saham Vietnam dan memicu penataan ulang aliran modal di kawasan Asia Tenggara.

Pilarmas menilai, peningkatan status Vietnam membuat persaingan dalam memperebutkan dana manajer investasi global semakin ketat. Hal ini karena Vietnam kini berada dalam kelompok secondary emerging market yang sama dengan Indonesia.

Dari sisi eksternal, sentimen pasar sebenarnya cenderung membaik. Harga minyak mengalami penurunan dan semakin menjauh dari level tertinggi yang dicapai pekan lalu, seiring dengan meningkatnya upaya diplomatik untuk mengakhiri konflik di Timur Tengah. Penurunan harga minyak ini diharapkan dapat membantu meredakan kekhawatiran terhadap tekanan inflasi.