DailyFX.ID — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terpantau melemah pada perdagangan Selasa (22/9/2026). Pelemahan ini berbeda arah dengan mayoritas bursa saham Asia yang mencatatkan penguatan. Investor menunjukkan sikap hati-hati menjelang pengumuman keputusan Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) mengenai suku bunga acuan, serta mengamati potensi pergeseran arus dana asing ke Vietnam.
Pada awal perdagangan sesi II, IHSG tercatat mengalami penurunan sebesar 71,93 poin atau setara 1,15%, mencapai level 6.313,38.
Analis Pilarmas Investindo Sekuritas menjelaskan bahwa tekanan pada IHSG hari ini disebabkan oleh sikap investor yang cenderung memilih untuk menunggu dan melihat (wait and see) terhadap arah kebijakan moneter yang akan diambil oleh Bank Indonesia. RDG BI dijadwalkan berlangsung pada 22-23 September 2026, dan pasar memperkirakan suku bunga acuan akan tetap dipertahankan.
“Kondisi tersebut menjadi perhatian karena ruang intervensi atau dukungan terhadap penguatan rupiah berpotensi semakin terbatas di tengah tekanan mata uang domestik,” tulis Pilarmas dalam risetnya pada Selasa (22/9/2026).
Tekanan tambahan datang dari perubahan status Vietnam oleh FTSE Russell, yang naik dari frontier market menjadi emerging market. Peningkatan status ini berpotensi mendorong masuknya dana asing ke pasar saham Vietnam dan memicu penataan ulang (rebalancing) aliran modal di kawasan Asia Tenggara.
Pilarmas menilai, kenaikan status Vietnam membuat persaingan dalam memperebutkan dana dari manajer investasi global menjadi semakin ketat. Hal ini dikarenakan Vietnam kini berada dalam kelompok secondary emerging market yang sama dengan Indonesia.
“Risiko terjadinya aliran modal keluar (outflow) dari pasar saham domestik tetap merupakan ancaman yang wajib diwaspadai,” tambah Pilarmas.
Meskipun demikian, pergerakan dana asing tidak selalu bergerak secara linier. Dampak perubahan status Vietnam terhadap pasar saham Indonesia masih akan sangat bergantung pada strategi alokasi yang diterapkan oleh investor global.
Harga Minyak Turun
Dari sisi eksternal, Pilarmas menyebutkan bahwa sentimen pasar sebenarnya cenderung membaik. Harga minyak mengalami penurunan dan semakin menjauh dari level tertinggi yang dicapai pada pekan lalu. Hal ini terjadi di tengah meningkatnya upaya diplomatik untuk mengakhiri konflik di Timur Tengah.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump dijadwalkan akan berpidato dalam Sidang Umum PBB di New York dan berpotensi bertemu dengan Presiden Iran Masoud Pezeshkian di sela-sela agenda tersebut.
Menurut Pilarmas, penurunan harga minyak membantu meredakan kekhawatiran terhadap tekanan inflasi. Data satelit juga menunjukkan muatan minyak dari Arab Saudi di Teluk Persia mengalami lonjakan, mengindikasikan ekspor mulai kembali bergeser melalui Selat Hormuz di tengah berlanjutnya penutupan pipa Timur-Barat.
Di pasar saham, beberapa saham mencatat kenaikan terbesar pada sesi pertama, di antaranya FORU, DYAN, SAPX, AGAR, dan BAIK. Sebaliknya, saham BBSS, TRIN, ACST, IFSH, dan LIFE menjadi pemberat dengan penurunan terbesar.
Untuk perdagangan saham hari ini, Pilarmas merekomendasikan beli saham PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS) dengan rentang support dan resistance di 7.475-8.500.
Ikuti DailyFX.ID
