— JAKARTA – Miliarder dan pendiri xAI, Elon Musk, memprediksi pengembangan kecerdasan buatan (AI) akan melipatgandakan pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat (AS) pada tahun mendatang, melesat dari rata-rata 2% menjadi sekitar 4%. Ramalan optimistis ini berbanding terbalik dengan proyeksi resmi para pengambil kebijakan.

Bank Sentral AS (The Fed) dalam proyeksi terbarunya memperkirakan pertumbuhan ekonomi AS hanya berada di level 2,4% pada 2027. Titik acuan awal yang digunakan Musk terbilang dekat dengan angka riil terkini. Berdasarkan laporan Bureau of Economic Analysis (BEA), Produk Domestik Bruto (PDB) riil AS tumbuh sebesar 1,5% pada kuartal II-2026, setelah sebelumnya mencatatkan pertumbuhan 2,1% pada kuartal I-2026.

Pejabat The Fed sendiri memperkirakan pertumbuhan ekonomi AS berada di angka 2,3% untuk tahun ini dan 2,4% pada tahun depan, dengan potensi jangka panjang ekonomi dipatok sebesar 2,0%. Jika estimasi Musk sebesar 4% benar-benar tercapai, capaian tersebut akan menjadi laju ekspansi ekonomi tercepat di AS sejak era ekspansi teknologi (boom) pada akhir 1990-an.

Hingga saat ini, jejak AI dalam perekonomian lebih terlihat pada peningkatan belanja modal korporasi ketimbang hasil produksi (output) agregat. Pengadaan cip semikonduktor, pembangunan pusat data (data center), serta penyediaan pembangkit listrik telah menyerap anggaran besar-besaran dari berbagai perusahaan global. Gelombang investasi infrastruktur ini pula yang menjadi pendorong utama kinerja saham-saham sektor AI sepanjang tahun.

Di tengah proyeksi lonjakan ekonomi dari Musk, para pembuat kebijakan justru bergerak memperketat pengawasan terhadap teknologi tersebut. Gubernur California Gavin Newsom menandatangani perintah eksekutif yang mendorong penerapan mekanisme kill switch, sistem darurat untuk mematikan model AI jika terindikasi bahaya. Perintah tersebut mewajibkan perusahaan AI terkemuka untuk menerima auditor independen di laboratorium mereka.

Tim ahli diberi waktu dua bulan untuk merumuskan usulan undang-undang keselamatan yang lebih ketat. Di Washington, penerima Hadiah Nobel Geoffrey Hinton memperingatkan para regulator dalam rapat tertutup di Capitol Hill bahwa tenggat waktu untuk mengamankan AI sangat mendesak. Menurut laporan NBC News, Hinton menyebut bahwa waktu yang tersisa mungkin hanya sekitar satu tahun.

Sejauh ini, baik The Fed maupun BEA belum mengubah angka proyeksi ekonomi mereka untuk menyesuaikan dengan ramalan Musk. Laporan PDB kuartal ketiga mendatang akan menjadi pijakan data resmi pertama untuk menguji validitas ramalan tersebut. Perdebatan mengenai dampak ekonomi dari kecerdasan buatan mencerminkan dinamika klasik antara lonjakan inovasi teknologi dan kesiapan regulasi.

Dalam teori ekonomi, lonjakan PDB hingga 4% di negara maju umumnya membutuhkan peningkatan produktivitas riil yang sangat masif (Total Factor Productivity). Fenomena dampak AI kerap dibandingkan dengan kemunculan Internet pada akhir 1990-an, di mana investasi besar-besaran membutuhkan waktu bertahun-tahun sebelum benar-benar terkonversi menjadi peningkatan efisiensi dan output nasional secara makro.

Di sisi lain, kekhawatiran dari figur seperti Geoffrey Hinton dan tindakan responsif dari pemerintah negara bagian seperti California menunjukkan keberadaan dilema ganda (pacing problem), yakni akselerasi kemampuan AI melaju jauh lebih cepat daripada kemampuan hukum serta regulasi dalam memitigasi risikonya. Investor dan pengambil kebijakan kini dihadapkan pada dua skenario utama, yaitu apakah AI akan menjadi mesin pendorong ekonomi terbesar abad ini atau justru memicu potensi krisis keselamatan yang memerlukan penghentian darurat.