— WASHINGTON – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menjamu kunjungan kenegaraan Presiden China Xi Jinping di Gedung Putih. Pertemuan tingkat tinggi antara kedua pemimpin negara dengan kekuatan ekonomi terbesar di dunia ini memfokuskan pada sejumlah isu krusial, mulai dari kesepakatan perdagangan, persaingan teknologi kecerdasan buatan (AI), hingga rivalitas strategis yang terus membayangi hubungan kedua negara.

Kunjungan kenegaraan tersebut menghasilkan lima poin utama yang menggambarkan arah hubungan bilateral AS dan China.

Perpanjangan Singkat Gencatan Perdagangan

Pemerintah AS dan China sepakat untuk memperpanjang masa berlaku jeda perang dagang selama dua bulan. Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengonfirmasi perpanjangan ini memberikan waktu tambahan bagi kedua negara untuk merumuskan langkah-langkah ekonomi jangka panjang. Meskipun demikian, perpanjangan yang berdurasi singkat ini dinilai hanya menunda pembahasan masalah inti. Persoalan sensitif seperti besaran tarif, target pembelian komoditas AS oleh China, pasokan mineral tanah jarang (rare earths), serta pembatasan ekspor teknologi canggih masih harus dibahas pada putaran negosiasi berikutnya.

Bessent menyebutkan, pihak China telah memenuhi komitmen pembelian 25 juta ton kedelai AS, namun masih tertinggal dalam merealisasikan janji pembelian produk pertanian lainnya senilai US$ 17 miliar. Pasokan tanah jarang dari China juga dilaporkan belum memenuhi kuota, membuat kalangan bisnis masih dibayangi ketidakpastian regulasi.

Unjuk Kemewahan Diplomasi Gedung Putih

Penyambutan Presiden Xi dikemas dalam parade kemewahan khas Gedung Putih. Trump menyajikan atraksi militer yang menampilkan prajurit berbusana era revolusi lengkap dengan wig dan topi tiga sudut, diiringi atraksi pesawat tempur dan pembom yang melintas di angkasa. Di hadapan awak media, Trump lebih banyak memamerkan pembaruan fasilitas Gedung Putih ketimbang membahas hasil diskusi kebijakan. Ia mengajak Xi meninjau helikopter kepresidenan Marine One serta area landasan helikopter (helipad) baru berornamen lambang kepresidenan di South Lawn.

Peringatan Xi Jinping atas Isu Taiwan

Sesuai perkiraan, Xi Jinping memanfaatkan pertemuan ini untuk menegaskan posisi China terkait isu Taiwan. Menurut laporan kantor berita resmi China, Xi meminta pemerintah AS untuk menangani isu Taiwan secara berhati-hati serta secara terbuka menentang kemerdekaan Taiwan. Permintaan ini berpotensi menggeser formulasi diplomasi AS yang selama ini menyatakan tidak mendukung kemerdekaan Taiwan tanpa secara eksplisit menentang. Pihak Gedung Putih belum memberikan pernyataan resmi terkait respons terhadap permintaan Xi tersebut.

Bayang-Bayang “Jebakan Thucydides” dan Risiko Strategis

Dalam perundingan tersebut, Xi kembali mengungkit teori akademis “Thucydides Trap” (Jebakan Thucydides). Konsep ini menggambarkan potensi benturan militer antara kekuatan global utama yang sedang bertahan dengan kekuatan baru yang sedang bangkit. Xi menegaskan risiko konflik tersebut dapat dihindari melalui dialog militer yang rutin serta mekanisme pencegahan krisis yang solid. Sementara itu, Trump merespons dengan mengungkit sejarah aliansi kedua negara pada masa Perang Dunia II sebagai bukti AS dan China memiliki potensi besar untuk bekerja sama.

Perbedaan Haluan dalam Pengaturan Teknologi AI

Isu AI memperlihatkan jurang perbedaan pandangan antara kedua pimpinan. Trump menolak pembentukan aturan batasan (guardrails) baru untuk AI dan memilih menyerahkan pengawasan sepenuhnya kepada Departemen Kehakiman AS. Sebaliknya Xi menekankan sebagai dua negara terdepan di bidang teknologi, AS dan China memiliki tanggung jawab moral untuk mengendalikan perkembangan AI. Xi menegaskan, pemanfaatan AI harus tetap berada di bawah kendali manusia dan ditujukan bagi kesejahteraan masyarakat dunia.

Penyelenggaraan KTT antara AS dan China di Washington menjadi cerminan dari dinamika hubungan bilateral yang paling kompleks di abad ke-21. Sejak pemberlakuan tarif impor beruntun beberapa tahun terakhir, ekonomi global terus terdampak oleh gesekan perdagangan AS dan China. Langkah perpanjangan gencatan dagang selama dua bulan memberikan ruang bernapas sementara bagi para pelaku industri dan rantai pasok global.

Persaingan penguasaan teknologi tingkat tinggi, seperti semikonduktor canggih, rantai pasok mineral tanah jarang (rare earths), serta pengembangan platform kecerdasan buatan (Super Intelligence), menjadi medan tempur baru dalam perebutan pengaruh ekonomi dan pertahanan global. Status kedaulatan Taiwan tetap menjadi titik krusial (flashpoint) paling rawan dalam hubungan kedua negara. Keseimbangan diplomasi AS antara menjaga stabilitas kawasan Indo-Pasifik dan mengelola hubungan dagang dengan Beijing terus diuji di tengah penguatan armada militer China.