— Dana yang diperdagangkan di bursa (ETF) yang didukung oleh emas menunjukkan tren positif pada bulan Juli 2026. Data dari World Gold Council (WGC) mencatat bahwa kepemilikan global ETF Emas meningkat sebesar 23,5 ton, setara dengan nilai US$ 3 miliar atau sekitar Rp 53,4 triliun.

Perkembangan ini mengindikasikan kembalinya minat investor terhadap logam mulia ini. Kenaikan ini juga bertepatan dengan berakhirnya tren penurunan harga emas selama empat bulan berturut-turut. Saat ini, harga emas kembali melampaui angka US$ 4.200 per troy ounce.

Peningkatan kepemilikan ETF Emas global sebagian besar didorong oleh investor di Eropa. ETF emas yang terdaftar di kawasan ini mencatat arus masuk modal sebesar 17,3 ton atau senilai US$ 2 miliar pada bulan Juli. Angka ini menjadikan bulan Juli sebagai bulan dengan kinerja terkuat kedua tahun ini bagi pasar ETF emas Eropa.

WGC mengamati bahwa permintaan ETF emas sangat kuat di Inggris dan Swiss. Kedua negara ini secara gabungan telah menarik dana sekitar US$ 5 miliar atau Rp 89 triliun sejak awal tahun. Lembaga tersebut melihat adanya pola siklis di mana investor Eropa membangun kembali posisi investasi mereka setelah periode pelemahan pasar yang signifikan.

Sementara itu, di Asia, meskipun permintaan melambat pada Juli 2026, tren pertumbuhan ETF emas tetap terjaga. Kawasan ini mencatat peningkatan sebesar 4,8 ton atau senilai US$ 616 juta (Rp 10,9 triliun).

China menjadi pemimpin kenaikan arus masuk ETF emas di Asia. Lonjakan ini didorong oleh upaya investor mencari aset aman (safe haven) menyusul penurunan tajam di pasar saham domestik dan turunnya imbal hasil lokal. Sementara itu, India mencatat arus masuk yang moderat, namun ETF emas di Jepang justru mengalami arus keluar akibat kenaikan imbal hasil lokal.

Secara keseluruhan, pasar ETF Emas menunjukkan adanya pergeseran momentum positif. Sejak awal tahun, total arus masuk bersih global ke dalam ETF emas telah mencapai 39 ton atau senilai US$ 11 miliar (Rp 195,8 triliun).