DailyFX.ID — JAKARTA – Fitch Ratings mengonfirmasi peringkat risiko gagal bayar jangka panjang Indonesia Investment Authority (INA) untuk mata uang asing dan lokal pada level ‘BBB’ dengan prospek negatif. Lembaga pemeringkat ini juga mempertahankan peringkat risiko gagal bayar jangka pendek mata uang asing INA di ‘F2’.
Keputusan ini sejalan dengan peringkat negara Indonesia, karena Fitch menilai pemerintah akan memberikan dukungan luar biasa kepada INA apabila diperlukan. Peringkat nasional jangka panjang INA di level ‘AAA(idn)’ dengan prospek stabil, serta peringkat nasional jangka pendek di ‘F1+(idn)’ juga ditegaskan kembali.
Penegasan peringkat mencerminkan penilaian Fitch yang tidak berubah mengenai kemungkinan INA menerima dukungan luar biasa dari pemerintah Indonesia, berdasarkan kriteria peringkat Government-Related Entities (GRE). Hal ini menyamakan peringkat INA dengan peringkat negara, sementara prospek negatif pada peringkat kredit jangka panjang INA mencerminkan prospek negara.
Fitch memutuskan tidak menyematkan profil kredit mandiri untuk INA. Lembaga ini dinilai tidak dapat dipisahkan dari pemerintah karena bertindak atas nama negara, menjalankan misi dan kebijakan, serta memiliki keterkaitan operasional dan keuangan yang erat.
“Kami yakin bahwa dukungan luar biasa dari pemerintah Indonesia kepada INA akan ‘hampir pasti’ jika dibutuhkan,” tulis Fitch dalam laporannya. Skor dukungan 45 dari maksimum 60 berdasarkan kriteria GRE mencerminkan tanggung jawab dan insentif pemerintah untuk mendukung penerbit.
Dukungan pemerintah juga terwujud dalam pembentukan modal dan profil keuangan INA sejak awal pendiriannya. Ini termasuk suntikan dana awal sebesar Rp 30 triliun dan kontribusi ekuitas Rp 45 triliun melalui kepemilikan saham di PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) dan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI).
Kepemilikan saham di kedua bank pelat merah tersebut memberikan pendapatan berulang bagi INA. Dividen dari Bank Mandiri dan BRI mencapai Rp 4,6 triliun pada 2025, setara 55% dari total pendapatan INA. Penerimaan dividen ini mendukung akumulasi modal, sementara regulasi memungkinkan suntikan ekuitas tambahan jika diperlukan.
“Dividen dari Bank Mandiri dan Bank Rakyat Indonesia tetap menjadi sumber utama pendapatan berulang, menyumbang 55% dari total pendapatan, dan terus mendukung kebutuhan operasional INA serta kapasitas untuk investasi lebih lanjut,” imbuh Fitch.
Dari sisi profil keuangan, pendapatan INA pada 2024 tercatat Rp 5,9 triliun dengan laba bersih Rp 5,4 triliun. Kinerja ini menguat pada 2025 menjadi pendapatan Rp 8,5 triliun dan laba Rp 7,4 triliun, didorong oleh hasil investasi dan penerimaan dividen yang lebih tinggi. Fitch menilai profil keuangan ini akan menopang aktivitas investasi INA ke depan.
Rasio utang INA tetap rendah sepanjang 2025. Perusahaan mendanai pertumbuhan portofolionya terutama melalui ekuitas, sumber daya internal, dan dana investor, bukan utang, sehingga mendukung struktur modal yang konservatif.
Fitch mencatat likuiditas INA memadai, didukung oleh kas, deposito berjangka, dan kepemilikan obligasi. Saldo kas INA tercatat lebih rendah pada 2025, yakni Rp 9,8 triliun dibandingkan Rp 12,8 triliun pada 2024, seiring percepatan penyaluran investasi di sektor prioritas.
Penilaian Fitch terhadap INA juga didukung oleh peran kebijakan sentralnya sebagai dana kelolaan negara (sovereign wealth fund) dan kontribusinya terhadap infrastruktur ekonomi strategis Indonesia. Sepanjang 2025, INA bersama mitra investornya menanamkan modal sekitar Rp 15,7 triliun di berbagai sektor strategis.
“Mandat INA tetap fokus pada bidang-bidang prioritas seperti infrastruktur, energi, transformasi digital, kesehatan, serta material dan industri canggih, yang mendukung tujuan pembangunan pemerintah yang lebih luas,” jelas Fitch.
Meskipun demikian, Fitch menyoroti sejumlah risiko. Gagal bayar oleh INA berpotensi memengaruhi ketersediaan dan biaya pembiayaan bagi pemerintah pusat serta BUMN lainnya, serta melemahkan kepercayaan investor terhadap iklim investasi Indonesia secara luas.
Risiko tersebut diperparah oleh profil INA yang tinggi, keterlibatan erat dengan investor global, dan kemitraannya dengan lembaga internasional yang telah menjanjikan lebih dari US$ 25 miliar untuk investasi di Indonesia. Namun, Fitch membatasi bobot penilaian risiko ini karena utang INA yang masih terbatas dan INA tidak dipandang sebagai penerbit acuan bagi pemerintah di pasar utang.
Fitch menegaskan, penurunan sovereign rating Indonesia akan berdampak pada tindakan pemeringkatan serupa terhadap peringkat INA. Penurunan skor dukungan secara keseluruhan hingga di bawah 45, khususnya akibat penilaian yang lebih lemah terhadap pengambilan keputusan, pengawasan, atau pelestarian peran kebijakan pemerintah, juga berpotensi memicu penurunan peringkat.
Sebaliknya, prospek INA akan direvisi menjadi stabil jika prospek sovereign rating Indonesia lebih dulu direvisi menjadi stabil, dengan syarat tidak ada perubahan signifikan pada faktor pemeringkatan utama lainnya. Perubahan ini tidak akan memengaruhi Peringkat Jangka Panjang Nasional INA, yang saat ini berada pada level tertinggi dalam skala nasional Fitch.
Ikuti DailyFX.ID
