DailyFX.ID — Harga emas mencatat lonjakan signifikan pada perdagangan Jumat, 7 Agustus 2026, menembus level US$ 4.300 per ons troi. Kenaikan dramatis ini dipicu oleh rilis data tenaga kerja Amerika Serikat yang mengejutkan pasar, sehingga meredam ekspektasi kenaikan suku bunga oleh Federal Reserve (The Fed).
Harga emas spot ditutup melonjak 2,39% menjadi US$ 4.342,18 per ons troi. Sebelumnya, harga logam mulia ini sempat melesat lebih dari 3% ke level tertinggi dalam tujuh minggu terakhir, tepatnya sejak 17 Juni 2026. Penguatan ini menempatkan emas pada jalur untuk mencatat penguatan mingguan terbesar sejak 19 Januari 2026, dengan lonjakan lebih dari 7% sepanjang pekan ini. Sementara itu, kontrak berjangka emas AS juga terpantau naik 2,37% dan ditutup pada US$ 4.401,3 per ons troi.
Penguatan emas terjadi setelah Departemen Tenaga Kerja AS merilis data yang menunjukkan jumlah pekerjaan nonfarm payrolls justru mengalami penurunan sebanyak 23.000 pada bulan Juli. Angka ini jauh di bawah perkiraan para ekonom yang disurvei Reuters, yang sebelumnya memproyeksikan penambahan sekitar 80.000 pekerjaan. Data bulan Juni pun turut direvisi turun, dari laporan awal peningkatan 20.000 pekerjaan menjadi lebih rendah.
David Meger, direktur perdagangan logam di High Ridge Futures, menilai bahwa data pekerjaan yang lebih lemah dari perkiraan ini membuat The Fed kemungkinan kecil untuk menaikkan suku bunga pada pertemuan berikutnya. “Data pekerjaan yang lebih lemah dari perkiraan menunjukkan skenario The Fed akan lebih kecil kemungkinannya menaikkan suku bunga pada pertemuan berikutnya,” ujar Meger.
Selain itu, penurunan harga energi dan berkurangnya peluang kenaikan suku bunga di AS berpotensi menekan nilai dolar AS. Kondisi ini secara umum menjadi katalis positif bagi pergerakan harga emas.
Peluang Kenaikan The Fed Menyusut
Ekspektasi pasar terhadap kebijakan suku bunga The Fed mengalami perubahan drastis pasca rilis data tenaga kerja. Berdasarkan data LSEG, pasar berjangka suku bunga kini memperkirakan peluang The Fed menaikkan suku bunga pada September sebesar 43,9%, sebuah penurunan signifikan dari angka 57% yang tercatat sebelum data pekerjaan diumumkan. Sebaliknya, peluang The Fed untuk mempertahankan suku bunga pada level yang sama di bulan September meningkat menjadi 56,1%, naik dari 43,2% sebelumnya.
Suku bunga yang lebih rendah atau ekspektasi penurunan suku bunga umumnya menjadi pendorong positif bagi harga emas. Hal ini dikarenakan emas, yang tidak memberikan bunga atau imbal hasil, menjadi lebih menarik ketika imbal hasil aset berbasis bunga mengalami penurunan.
Prospek harga emas juga mendapat dukungan dari analisis UBS. Dalam catatan tertulisnya pada Jumat, UBS memproyeksikan harga emas berpotensi mencapai US$ 5.000 per ons troi pada paruh pertama tahun 2027. UBS juga berpendapat bahwa pelemahan harga emas menuju US$ 4.000 per ons troi atau lebih rendah dalam jangka pendek justru dapat dimanfaatkan sebagai peluang untuk membangun eksposur strategis terhadap emas.
Di pasar logam mulia lainnya, harga perak spot ditutup melonjak 3,36% menjadi US$ 63,58 per ons. Platinum menguat 1,17% menjadi US$ 1.749,35 per ons, sementara palladium mencatat kenaikan 0,95% menjadi US$ 1.382,35 per ons. Ketiga logam mulia ini juga terpantau berada di jalur yang sama untuk mencatat kenaikan dalam sepekan.
Ikuti DailyFX.ID
