— Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprediksi melanjutkan pelemahannya pada perdagangan Rabu (23/9/2026), menjelang pengumuman hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI). Pada perdagangan Selasa (22/9/2026), IHSG tercatat melemah 1,69% atau 107,6 poin ke level 6.277. Sektor barang konsumen non-primer menjadi satu-satunya sektor yang menguat tipis 0,33%, sementara sektor energi mengalami pelemahan terdalam sebesar 2,76%.

Pilarmas Investindo Sekuritas memperkirakan IHSG berpotensi melemah terbatas dengan level support di 6.200 dan resistance di 6.320. Pelemahan ini terjadi di tengah penguatan harga minyak mentah yang sempat mencetak rekor tertinggi sejak Juni, dipicu oleh sentimen penurunan harga minyak akibat upaya negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran. Pernyataan Presiden AS Donald Trump mengenai potensi berakhirnya perang setelah pemilihan paruh waktu November serta pertemuan positif antara pejabat AS dan Iran di New York telah menghidupkan kembali harapan perdamaian.

Fokus pasar tetap tertuju pada perkembangan geopolitik. Jika negosiasi antara AS dan Iran menunjukkan kemajuan nyata, harga minyak diprediksi akan terus menurun, yang berpotensi diikuti oleh penurunan imbal hasil obligasi US Treasury dan penguatan harga saham. Trump sendiri menyatakan kesediaan untuk bertemu langsung dengan Presiden Iran demi membuka kembali Selat Hormuz. Situasi ini krusial bagi Trump yang membutuhkan dukungan suara menjelang pemilihan paruh waktu.

Pelaku pasar dan investor tengah mencermati potensi kesepakatan perang AS-Iran yang akan berdampak signifikan terhadap harga minyak dan inflasi. Inflasi sendiri akan memengaruhi prospek kenaikan atau penurunan suku bunga acuan, seperti yang baru saja dilakukan The Fed dengan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin. Probabilitas ini meningkat seiring ketidakpastian jalan keluar perang, namun dapat menurun jika kesepakatan tercapai.

Kesepakatan antara AS dan Iran menjadi salah satu faktor utama yang memengaruhi pasar sejak awal tahun. Jika terdapat kabar baik pada November, Pilarmas memproyeksikan akhir tahun akan cerah bagi pasar saham dan obligasi domestik yang dalam beberapa waktu terakhir telah menghadapi tekanan cukup berat, ditambah lagi dengan kondisi dalam negeri yang juga tak menentu.

Selain itu, pelaku pasar menantikan tanggapan Bank Indonesia (BI) terhadap kenaikan suku bunga The Fed. Pilarmas memproyeksikan suku bunga BI akan tetap stabil. Sementara itu, Bursa Efek Indonesia (BEI) akan menerapkan kebijakan baru pada 28 September 2026, yaitu penurunan harga minimum saham dari Rp 50 menjadi Rp 1. Kebijakan ini berlaku untuk saham dan DINFRA di Pasar Reguler dan Pasar Tunai, dengan tujuan memperluas ruang perdagangan dan meningkatkan fleksibilitas pembentukan harga saham.

Perubahan batas ARA-ARB juga diterapkan: saham Rp1-Rp10 memiliki batas naik/turun Rp1; saham Rp10-Rp200 memiliki ARA 35% dan ARB 15%; saham Rp200-Rp5.000 memiliki ARA 25% dan ARB 15%; serta saham di atas Rp5.000 memiliki ARA 20% dan ARB 15%. Ketentuan ini berlaku hingga 31 Desember 2026, sebelum penerapan batas ARB yang simetris dengan ARA mulai 1 Januari 2027. Penurunan harga minimum saham berpotensi memberikan ruang lebih besar bagi emiten dan investor dalam proses penemuan harga (price discovery), khususnya bagi saham yang sebelumnya tertahan di level Rp 50.

Kebijakan ini diharapkan dapat meningkatkan fleksibilitas transaksi dan likuiditas. Namun, ruang penurunan harga yang lebih luas juga berpotensi meningkatkan volatilitas, terutama pada saham berharga rendah dengan likuiditas terbatas. Pilarmas memprediksi sentimen terhadap saham small-cap dan saham berharga rendah akan lebih selektif dalam jangka pendek.

Penerapan ARB yang lebih simetris dengan ARA mulai 2027 diharapkan memberikan mekanisme perdagangan yang lebih seimbang, meskipun berpotensi meningkatkan risiko penurunan harga harian. Secara keseluruhan, dampak kebijakan ini bergantung pada respons investor dan kualitas fundamental emiten, karena penurunan harga minimum tidak serta-merta mencerminkan peningkatan nilai fundamental saham.

Dalam rekomendasi untuk perdagangan Rabu (23/9/2026), CGS International Sekuritas Indonesia menyarankan saham ISAT, HRTA, dan MEDC.