— Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali melanjutkan tren pelemahannya pada penutupan perdagangan Rabu (16/9/2026), merosot 0,38% ke level 6.436. Ini menandai enam hari bursa berturut-turut, sejak 9 September 2026, IHSG selalu berakhir di zona negatif.

Pada perdagangan Rabu, mayoritas saham mengalami pelemahan, dengan 439 saham ditutup merugi, 201 saham menguat, dan 151 saham stagnan. Nilai transaksi di Bursa Efek Indonesia (BEI) tercatat sebesar Rp 12,26 triliun, sedikit menurun dibandingkan hari sebelumnya yang mencapai Rp 12,72 triliun.

Berdasarkan data Stockbit Sekuritas, investor asing mencatatkan net sell sebesar Rp 430,21 miliar pada jeda perdagangan siang hari.

Phintraco Sekuritas melaporkan bahwa IHSG ditutup melemah di level 6.461,15 (-1,13%) pada perdagangan Selasa (14/9/2026). Pergerakan negatif ini dipengaruhi oleh harga minyak yang bertahan tinggi dan ekspektasi kenaikan suku bunga oleh The Fed.

Lebih lanjut, Phintraco Sekuritas menyoroti peringatan dari S&P Global Ratings mengenai peningkatan risiko kredit dan pendapatan pada bank Badan Usaha Milik Negara (BUMN) di Indonesia. Peringatan ini muncul karena penyaluran pinjaman yang diarahkan pemerintah tumbuh dua kali lebih cepat dari rata-rata industri, yang berpotensi meningkatkan rasio kredit bermasalah (NPL) dan menekan profitabilitas sektor perbankan negara.

Investor kini menantikan hasil pertemuan The Fed yang diperkirakan akan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin menjadi kisaran 3,75%-4,0% pada 16 September. Selain itu, dari Amerika Serikat juga akan dirilis data retail sales yang diproyeksikan meningkat 0,9% month-on-month (MoM) pada Agustus 2026, setelah mengalami penurunan 0,6% MoM pada Juli 2026. Dari Inggris, data inflasi diperkirakan naik menjadi 3,1% year-on-year (YoY) pada Agustus 2026 dari 2,9% YoY pada Juli 2026. Sementara itu, Jepang akan merilis data neraca perdagangan Agustus 2026, dengan proyeksi pertumbuhan ekspor melambat menjadi 18,2% YoY dari 23,2% YoY, dan pertumbuhan impor menjadi 26,3% YoY dari 27,8% YoY.