DailyFX.ID — Pemerintah didesak untuk menyusun asumsi makroekonomi dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2027 dengan pendekatan yang realistis dan terukur. Institute for Development of Economics and Finance (Indef) menilai asumsi yang terlalu optimistis berisiko menyulitkan pencapaian target fiskal jika kondisi perekonomian tidak sesuai proyeksi.
Beberapa indikator utama RAPBN 2027 yang menjadi sorotan meliputi pertumbuhan ekonomi, nilai tukar rupiah, lifting minyak, inflasi, serta imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN). Indikator-indikator ini krusial dalam menentukan arah kebijakan fiskal dan kemampuan pemerintah dalam mencapai target penerimaan negara.
Peneliti Center of Macroeconomics and Finance Indef, Abdul Manap Pulungan, menekankan bahwa asumsi makroekonomi tidak semata-mata harus dipatok tinggi. Pemerintah perlu memastikan setiap asumsi memiliki peluang besar untuk dicapai. “Yang paling tepat itu relatif, tapi arahnya bagaimana berbagai indikator itu bisa dicapai. Kalau meleset, harus jelas apa langkah pemerintah,” ungkap Abdul Manap pada Selasa (18/8/2026).
Target Pertumbuhan Ekonomi Perlu Lebih Konservatif
Indef mengkritisi target pertumbuhan ekonomi tahun 2027 sebesar 6%. Abdul Manap berpendapat bahwa target tersebut perlu disusun lebih konservatif, mengingat pertumbuhan ekonomi sebesar 5,5% saja belum konsisten dicapai dari tahun ke tahun.
Asumsi Nilai Tukar Rupiah Menunjukkan Potensi Tekanan
Untuk nilai tukar rupiah, yang dipatok di level Rp 17.500 per dolar AS, Abdul Manap melihatnya sebagai indikasi kecenderungan pesimistis. Ia menjelaskan bahwa dengan posisi rupiah yang saat ini berada di kisaran Rp 17.800 per dolar AS dan masih memiliki ruang penguatan hingga akhir tahun, target Rp 17.500 per dolar AS pada tahun depan justru memberikan sinyal bahwa pemerintah memperkirakan tekanan terhadap nilai tukar akan terus berlanjut. “Kalau rupiah ditetapkan lebih lemah, artinya kita sudah berekspektasi akan terjadi tekanan ke depan,” ujarnya.
Oleh karena itu, pemerintah disarankan untuk menyusun asumsi nilai tukar yang lebih mencerminkan upaya penguatan daya tahan rupiah, bukan sekadar mengantisipasi pelemahan.
Imbal Hasil SBN Terlalu Optimistis di Tengah Tekanan Global
Asumsi imbal hasil SBN sebesar 6,9% pada 2027 juga menjadi sorotan karena dinilai terlalu optimistis di tengah tekanan ekonomi global. Abdul Manap menyatakan bahwa pemerintah perlu mencari cara untuk menekan tingkat imbal hasil tersebut lebih rendah. Tingkat imbal hasil SBN merupakan salah satu indikator yang mencerminkan beban pembiayaan fiskal; semakin tinggi imbal hasilnya, semakin besar biaya yang harus ditanggung pemerintah untuk membiayai utang.
Asumsi makroekonomi dalam APBN bukan hanya sekadar angka dalam dokumen anggaran, melainkan juga menjadi sinyal bagi masyarakat dan investor mengenai arah kebijakan ekonomi pemerintah. Perubahan asumsi makroekonomi baru menjadi mendesak apabila terjadi perubahan ekonomi yang signifikan, seperti krisis global atau gejolak besar yang membuat kondisi ekonomi sangat berbeda dari proyeksi awal.
Namun, perubahan APBN memerlukan proses persetujuan bersama DPR yang tidak dapat dilakukan secara cepat. Oleh sebab itu, penyusunan asumsi RAPBN 2027 sejak awal perlu dilakukan dengan pendekatan yang realistis, terukur, dan tidak terlalu optimistis. “Perubahan asumsi itu bisa berubah bagaimana defisit APBN. Itu kalau ada perubahan signifikan dalam perekonomian terutama karena krisis,” pungkas Abdul Manap Pulungan.
Ikuti DailyFX.ID
