— Industri asuransi jiwa konvensional berhasil membukukan laba bersih sebesar Rp 13,24 triliun sepanjang semester I-2026. Angka ini menunjukkan pertumbuhan signifikan sebesar 75,27% jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya (year on year/yoy).

Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), peningkatan kinerja laba ini ditopang oleh lonjakan pendapatan premi kotor yang mencapai 12,93% yoy, sehingga totalnya menjadi Rp 85,52 triliun. Namun, hasil investasi mengalami penurunan drastis hingga mencatat kerugian sebesar Rp 2,60 triliun pada semester I-2026. Angka ini berbanding terbalik dengan periode sama tahun lalu yang mencatat hasil positif Rp 15,96 triliun.

Akibatnya, total pendapatan industri asuransi jiwa mengalami penurunan sebesar 10,21% yoy menjadi Rp 78,38 triliun untuk periode enam bulan tersebut.

Di sisi lain, total beban industri tercatat sebesar Rp 77,71 triliun, mengalami penurunan 10,37% yoy pada semester I-2026. Penurunan utama terutama dicatatkan pada pos klaim dan manfaat yang turun 14,06% yoy menjadi Rp 57,65 triliun. Penurunan ini sebagian besar berasal dari berkurangnya cadangan premi senilai Rp 10,07 triliun, atau turun 257,80% yoy, serta penurunan klaim penebusan unit sebesar 94% yoy menjadi Rp 25,35 triliun. Meskipun demikian, klaim yang dibayarkan justru naik 18,39% yoy menjadi Rp 43,80 triliun.

Secara operasional, beban pemasaran relatif stagnan dengan pertumbuhan hanya 0,36% yoy menjadi Rp 932,73 miliar. Beban pegawai dan pengurus juga menunjukkan tren serupa. Meskipun beban manajemen turun signifikan sebesar 86,76% yoy menjadi Rp 13,60 miliar dari Rp 102,73 miliar pada periode sebelumnya, beban umum dan administrasi justru melonjak 14,55% yoy menjadi Rp 5,26 triliun. Hal ini membuat total beban usaha secara keseluruhan hanya naik tipis 2,33% yoy menjadi Rp 11,29 triliun.

Meskipun laba bersih asuransi jiwa konvensional menunjukkan pertumbuhan yang kuat pada semester I-2026, tantangan berupa potensi penurunan nilai aset dan klaim di masa depan masih perlu diwaspadai. Industri asuransi jiwa secara keseluruhan mencatat rugi komprehensif sebesar Rp 125,79 miliar (-101,33% yoy), dengan penurunan nilai aset yang belum dirilis mencapai Rp 14,24 triliun (+85,42% yoy).