— Pertemuan puncak antara Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping di Washington menjadi fokus utama pelaku pasar dunia. Pertemuan dua pemimpin ekonomi terbesar dunia tersebut membahas isu-isu krusial, mulai dari penetapan tarif perdagangan, pengawasan teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), hingga pembatasan ekspor mineral kritis yang mengancam stabilitas rantai pasok global.

Sebagai persiapan awal menuju konferensi tingkat tinggi (KTT) tersebut, delegasi kedua negara yang dipimpin oleh Menteri Keuangan AS Scott Bessent dan Wakil Perdana Menteri China He Lifeng menggelar perundingan intensif di New York. Bloomberg internasional pada Senin (21/9/2026) melaporkan, tawar-menawar antar-kedua belah pihak diperkirakan berlangsung sengit hingga detik-detik terakhir.

Fokus utama negosiasi berpusat pada kepastian perpanjangan kesepakatan penundaan tarif. Pengamat memperkirakan masa penundaan tarif berpotensi diperpanjang selama satu tahun, meski pihak AS berpeluang menuntut jangka waktu lebih singkat demi menjaga tekanan diplomasi terhadap China. Di sisi lain, pemerintah China menghendaki kesepakatan tersebut bertahan hingga akhir masa jabatan Trump.

Sebagai bentuk itikad baik menjelang KTT, pemerintah AS menunda rilis laporan mengenai kapasitas produksi berlebih industri China dan menangguhkan sebagian besar rencana tarif baru, menyisakan bea masuk sebesar 7,5%. Trump juga memilih meredam laporan intelijen terkait dugaan penyedia data lokasi dari China kepada Iran guna menjaga suasana negosiasi tetap kondusif.

Pertemuan di Washington ini juga diamati secara ketat oleh Uni Eropa yang dijadwalkan menggelar dialog perdagangan serupa dengan China pada awal Oktober 2026. Komisaris Perdagangan Uni Eropa (UE) Maros Sefcovic menegaskan, hasil konkret dari pihak China diperlukan guna mencegah pemberlakuan langkah pembatasan balasan dari kawasan Eropa.

Analisis Risiko Perdagangan Global

Analis dari Bloomberg Economics yaitu Nicole Gorton-Caratelli, Adam Farrar, dan Maeva Cousin menilai ketegangan perdagangan AS-China telah mereda jika dibandingkan dengan periode sebelumnya.

Kedua pihak diyakini berupaya menghindari potensi konflik terbuka demi menjaga stabilitas hubungan bilateral. Namun, rencana Washington untuk memperketat kembali dinding tarif impor tetap menyimpan risiko lonjakan konflik di masa mendatang.

Di luar perundingan Washington, dinamika ekonomi global diwarnai oleh serangkaian keputusan suku bunga bank sentral serta rilis data aktivitas manufaktur di berbagai kawasan:

China

Suku bunga acuan pinjaman tenor 1 dan 5 tahun bertahan di 3% dan 3,5%. Pertahanan selama 16 bulan berturut-turut mempersempit ruang kelonggaran moneter kuartal IV-2026.

Indonesia

Bank Indonesia meninjau suku bunga acuan. Diproyeksikan tetap bertahan pada level 5,75% untuk memperkuat stabilitas nilai tukar.

Amerika Serikat

Rangkaian pidato pejabat The Fed dan pengumuman indeks manufaktur. Investor mencermati petunjuk arah penyesuaian suku bunga acuan pasca-kenaikan sebelumnya.

Eropa

Swiss pertahankan suku bunga 0%, Swedia di 1,75%, Norwegia kaji kenaikan. Pelaku usaha mencermati dampak kenaikan harga energi terhadap aktivitas manufaktur.

Amerika Latin

Brasil pangkas suku bunga ke 13,75%, Meksiko tahan di 6,5%. Inflasi kawasan diperkirakan kembali memanas seiring proyeksi pertumbuhan ekonomi Argentina yang melambat.

Rivalitas ekonomi antara AS dan China terus menjadi penggerak utama dinamika pasar keuangan serta rantai pasok global sejak dimulainya perang tarif pada masa jabatan pertama Donald Trump. Keputusan China untuk membatasi ekspor mineral kritis dan tanah jarang menjadi respons strategis atas kebijakan pembatasan akses teknologi dan sanksi ekonomi yang diterapkan oleh AS.

Eskalasi perselisihan kedua negara tidak hanya memicu gangguan pasokan bagi industri manufaktur Amerika, tetapi juga menyebarkan dampak inflasi ke berbagai negara berkembang dan kawasan Eropa.

Dengan latar belakang volatilitas harga energi akibat ketegangan di Timur Tengah serta pengetatan kebijakan moneter oleh bank-bank sentral utama dunia, hasil KTT di Washington pekan ini akan menentukan arah stabilitas pertumbuhan ekonomi global dalam beberapa tahun ke depan.