— Desa Buton, Kecamatan Obi, Kabupaten Halmahera Selatan, Maluku Utara – Kelompok Tani Milenial Sinergi Pembangunan Negeri menggelar panen perdana padi pada Senin (7/9). Dari lahan seluas 12,5 hektare, produktivitas panen dilaporkan mencapai 8,3 ton per hektare berdasarkan hasil ubinan tim pendamping. Keberhasilan ini merupakan buah kolaborasi antara kelompok tani, Pemerintah Kabupaten Halmahera Selatan, dan sektor swasta melalui Harita Nickel.

Ketua Kelompok Tani Milenial Sinergi Pembangunan Negeri, Ruslan Kasman, mengungkapkan rasa syukurnya atas hasil panen tersebut. “Alhamdulillah, kita bisa panen sekarang. Dengan berkat dari pemerintah kabupaten, bersama perusahaan Harita Nickel, mereka selalu mendampingi kami. Akhirnya sekarang kami masih bisa panen,” ujarnya.

Perjalanan menuju panen ini tidaklah mudah. Beberapa hari setelah penanaman awal, kelompok tani dihadapkan pada banjir akibat hujan deras yang merendam lahan dan mematikan tanaman padi yang baru tumbuh, memaksa mereka untuk menanam kembali dari awal. Tantangan lain muncul ketika periode kemarau datang, menyebabkan kurangnya pasokan air bagi tanaman yang sedang berkembang.

Untuk mengatasi masalah irigasi, pemerintah daerah memberikan bantuan berupa dua unit pompa air. Para petani juga berinisiatif mengatur aliran air di lapangan demi memastikan kebutuhan tanaman terpenuhi hingga masa panen. Meskipun sempat merasa kecewa dengan berbagai kendala tersebut, Ruslan dan anggotanya memilih untuk tetap gigih dalam budidaya.

Ruslan berharap dukungan dari pemerintah kabupaten dan Harita Nickel dapat terus berlanjut. “Saya berharap kepada pemerintah kabupaten, bersama dari pihak Harita Nickel, jangan pernah bosan-bosan untuk melihat kami atau mendampingi kami ke depan nanti. Karena kita, kelompok petani milenial, ini kan ibarat jagung yang baru tumbuh,” tuturnya.

Ketua Komunitas Perintis Kedaulatan Pangan Pulau Obi (Pelangi), Darwan Aduhasan, melihat pengalaman ini sebagai bukti bahwa sektor pertanian memiliki potensi besar untuk berkembang di Pulau Obi. Ia juga berupaya mengubah persepsi negatif tentang profesi petani yang seringkali dikaitkan dengan keterbatasan ekonomi.

“Kami meyakini bahwa petani itu bukan seperti yang banyak orang pikir bahwa petani itu miskin, Pak. Tapi kita ini petani yang memiliki masa depan yang akan datang. Dan hari ini kita petani bukan cuma untuk kita, Pak, bukan hanya untuk kaum tua, tetapi untuk generasi yang akan datang, bahkan sampai untuk anak cucu kita,” tandas Darwan.

Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Halmahera Selatan, Suryatmi Aldjokja, mengapresiasi peran Harita Nickel dalam program pendampingan petani. “Untuk perusahaan dalam hal ini Harita Nickel, terima kasih kami ucapkan yang masih terus dan setia mendampingi para petani kita di lapangan dalam program-program CSR-nya, dan kami berharap kolaborasi dan sinergitas ini tetap berlangsung sampai petani-petani kita ini mungkin merasa peningkatan ekonominya itu benar-benar meningkat,” kata Suryatmi.

Pengembangan pertanian di Desa Buton merupakan bagian dari Sentra Ketahanan Pangan Obi (SENTANI), sebuah program pemberdayaan masyarakat yang digagas Harita Nickel. Program ini bertujuan memperkuat ketahanan pangan dan kapasitas ekonomi masyarakat Pulau Obi. Selain Kelompok Tani Milenial Sinergi Pembangunan Negeri, SENTANI juga membawahi Kelompok Tani Ake Moriri dan Kelompok Tani Putih Putih, yang secara kumulatif mengelola sekitar 30 hektare sawah.

Melalui program SENTANI, pendampingan mencakup bimbingan teknis budidaya, penyediaan sarana produksi pertanian, penguatan kelembagaan, hingga akses pasar. Hasil pertanian diarahkan untuk memiliki pasar yang lebih luas dengan melibatkan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) sebagai penyerap produk petani, serta untuk memenuhi kebutuhan pangan Harita Nickel.

Panen perdana ini menjadi tonggak penting bagi para petani milenial di Desa Buton. Keberhasilan mereka melewati berbagai tantangan, seperti banjir dan kekeringan, menunjukkan potensi kolaborasi antara petani, pemerintah daerah, dan sektor swasta dalam mengembangkan sektor pertanian di Pulau Obi.