DailyFX.ID — Kementerian Keuangan (Kemenkeu) telah menyalurkan dana sebesar Rp 331,4 triliun untuk subsidi dan kompensasi kepada PT PLN (Persero) dan PT Pertamina hingga 31 Agustus 2026. Angka ini mengalami peningkatan signifikan sebesar 52,1% dibandingkan periode yang sama di tahun sebelumnya.
Rinciannya, realisasi subsidi mencapai Rp 177,1 triliun, sementara kompensasi tercatat sebesar Rp 154,4 triliun pada Agustus 2026. Menteri Keuangan Suahasil Nazara menjelaskan bahwa pembayaran subsidi yang dilakukan secara bulanan ini bertujuan untuk menjaga daya beli masyarakat.
“Realisasi subsidi dan kompensasi sudah kita bayarkan Rp 331,4 triliun, pembayaran kompensasi itu sekarang dilakukan bulanan, dan pembayaran subsidi juga dilakukan bulanan kepada PLN dan Pertamina,” ujar Suahasil dalam konferensi pers APBN Kinerja dan Fakta Edisi September 2026 di Kantor Kemenkeu, Jakarta, Jumat (18/9/2026).
Faktor-faktor yang memengaruhi realisasi subsidi dan kompensasi meliputi fluktuasi harga minyak mentah dunia, nilai tukar rupiah, serta peningkatan volume konsumsi bahan bakar minyak (BBM), LPG, dan listrik bersubsidi. Volatilitas harga minyak global akibat dinamika geopolitik, seperti yang terjadi pada konflik Rusia-Ukraina di tahun 2022, dapat mendorong kenaikan realisasi subsidi energi. Sementara itu, subsidi non-energi terutama dipengaruhi oleh peningkatan pembayaran subsidi pupuk.
Sebagai perbandingan, pada Agustus 2025, realisasi pembayaran subsidi dan kompensasi hanya mencapai Rp 218 triliun, yang terdiri dari subsidi Rp 194 triliun dan kompensasi Rp 68,6 triliun. Dengan demikian, terdapat selisih pembayaran lebih tinggi sebesar Rp 113,4 triliun pada periode ini.
“Hal ini kami maksudkan supaya PLN dan Pertamina memiliki keleluasaan cash, supaya bisa terus menyediakan barang-barang yang memang harganya diatur oleh pemerintah, barang-barang yang harga bersubsidi,” jelas Suahasil.
Menteri Keuangan menambahkan bahwa peningkatan penggunaan barang-barang yang mendapatkan subsidi juga mengindikasikan geliat aktivitas ekonomi masyarakat. Volume BBM dilaporkan meningkat 8,8%, sementara volume LPG 3 kilogram naik 2,6%. Jumlah pelanggan listrik bersubsidi juga bertambah 2,1%, dan volume pupuk bersubsidi tumbuh 23,4%. Selain itu, jumlah debitur Kredit Usaha Rakyat (KUR) meningkat 5,9%.
“Barang-barang yang mendapatkan subsidi, penggunaannya meningkat oleh masyarakat. Oleh karena itu, ekonomi masyarakat terus bergerak,” tutur Suahasil. Ia menegaskan bahwa pemerintah terus menjaga ketersediaan barang dengan harga yang terjangkau melalui skema subsidi dan kompensasi, yang turut mendukung pergerakan ekonomi nasional.
Ikuti DailyFX.ID
