DailyFX.ID — JAKARTA – Industri ritel nasional optimis mampu mencatatkan pertumbuhan positif di tengah berbagai tantangan daya beli dan kebijakan ekonomi. Namun, pelaku usaha berharap pemerintah tidak terlalu mengekang aktivitas ekonomi, khususnya terkait arus impor.
Ketua Umum Himpunan Peritel dan Penyewa Perbelanjaan Indonesia (Hippindo) Budihardjo Iduansjah menyatakan, sektor ritel memiliki ruang untuk bertumbuh apabila aktivitas ekonomi diberikan keleluasaan. Menurutnya, ritel sangat penting dalam mendorong konsumsi yang menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi nasional.
“Kalau kebijakan pemerintah masih mengekang ekonomi, bisanya stabil. Kalau tidak dikekang bisa naik,” ujar Budihardjo dalam acara Indonesia Retail Summit & Expo 2026 di Pantai Indah Kapuk, Jakarta pada Rabu (26/8/2026).
Budihardjo menilai pertumbuhan ekonomi akan semakin besar jika perdagangan berjalan lancar, termasuk arus impor yang mendukung ketersediaan produk dan bahan baku industri. Impor yang dilakukan secara resmi dan berkontribusi pada penerimaan negara melalui pajak seharusnya tidak dibatasi secara ketat. Aktivitas impor merupakan bagian dari rantai ekonomi yang dapat memperbesar skala perekonomian.
“Kalau memang sudah mau bayar pajak, mau impor resmi, jangan direm. Orang mau bayar pajak,” tegasnya.
Dari sisi kinerja, Budihardjo menyebut sejumlah subsektor ritel masih mampu mencatatkan pertumbuhan tinggi, bahkan mencapai dua digit. Kategori makanan dan minuman (F&B), kosmetik, serta elektronik seperti telepon genggam menunjukkan performa positif.
Namun, tidak semua subsektor mengalami hal serupa. “Sebenarnya sebagian kategori itu double digit, 10% lebih. F&B bagus, kosmetik juga, elektronik juga. Tapi ada yang di bawah,” jelasnya.
Sementara itu, segmen hypermarket besar masih menghadapi tekanan akibat perubahan pola belanja masyarakat. Konsumen cenderung beralih ke format ritel yang lebih dekat dan praktis seperti minimarket atau convenience store.
“Yang agak sulit saat ini hypermarket yang besar-besar itu turun. Tapi convenience store masih banyak, masih bagus. Minimarket juga,” kata Budihardjo.
Untuk menjaga pertumbuhan, pelaku ritel terus berinovasi dengan menghadirkan produk baru, memperkuat promosi, memperluas jaringan toko, dan meningkatkan efisiensi operasional. Digitalisasi, terutama pada pengelolaan gudang dan rantai pasok, juga menjadi kunci untuk menekan biaya sehingga harga jual lebih kompetitif.
“Strateginya produk baru, inovasi baru, pendatang baru, promosi, buka toko semakin banyak, tekan harga dengan efisiensi. Digitalisasi gudang yang canggih juga membantu menekan biaya,” ungkap Budihardjo.
Ia menambahkan, efisiensi adalah kunci bagi industri ritel untuk tetap bersaing di tengah perubahan perilaku konsumen dan tekanan biaya operasional.
Mendorong Ekonomi Nasional
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menargetkan pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 6% pada akhir tahun dan tahun berikutnya. Pencapaian target ini memerlukan kontribusi dari seluruh sektor, termasuk industri ritel.
Sektor ritel dinilai memiliki keunggulan karena jaringannya yang luas dan berhubungan langsung dengan masyarakat. “Sektor ritel ini terus mendorong pertumbuhan perekonomian kita, apalagi ini salah satu organisasi yang owner-nya ada di lapangan,” ujar Airlangga.
Posisi strategis ritel sebagai sektor yang langsung berhubungan dengan aktivitas konsumsi masyarakat menjadikannya penghubung antara produsen, distributor, dan konsumen akhir.
Airlangga melihat ketahanan sektor ritel menunjukkan kekuatan ekonomi domestik Indonesia di tengah berbagai tekanan global seperti konflik geopolitik dan ketegangan perdagangan internasional. Kekuatan konsumsi masyarakat menjadi faktor penting yang menjaga stabilitas ekonomi nasional.
“Ritel Indonesia menunjukkan resiliensi dan bertahan untuk menopang perekonomian nasional,” katanya.
Ia optimistis sektor ritel dapat terus menjadi mesin pertumbuhan ekonomi nasional dan memperkuat daya tahan ekonomi Indonesia menghadapi tantangan global.
Tantangan dan Peluang Wisata Belanja
Airlangga mengakui masih ada tantangan terkait distribusi dan ketersediaan stok barang, terutama untuk produk yang bergantung pada pasokan luar negeri. Pemerintah tidak ingin keterbatasan stok membuat masyarakat berbelanja ke luar negeri.
“Tidak ingin stoknya tipis, akibatnya masyarakat Indonesia belanjanya di tempat lain di luar negeri. Dengan adanya stok yang lebih besar tentu yang belanja akan lebih banyak lagi,” tuturnya.
Oleh karena itu, pemerintah akan memperkuat rantai pasok dan memastikan ketersediaan barang di pasar domestik. Selain itu, pemerintah juga mendorong peningkatan pasokan dari dalam negeri agar industri ritel tidak terlalu bergantung pada produk impor.
Pemerintah juga melihat peluang besar dari sektor wisata belanja. Peningkatan kunjungan wisatawan mancanegara perlu dimanfaatkan untuk mendorong aktivitas belanja di Indonesia. Di banyak negara tujuan wisata, belanja dan kuliner menjadi bagian penting dari aktivitas wisatawan.
“Wisatawan itu sebagian melakukan kuliner dan belanja. Ini tentu perlu didorong supaya mereka belanja di Indonesia saja,” kata Menko Perekonomian.
Airlangga menyebutkan pembayaran jasa perjalanan wisatawan Indonesia ke luar negeri mencapai sekitar US$ 6,7 miliar. Ia berharap sebagian pengeluaran tersebut dapat dialihkan ke pasar domestik. Jika wisata belanja berkembang, sektor ritel berpotensi menjadi motor pertumbuhan ekonomi baru.
Indonesia Retail Summit & Expo 2026
Head of Committee Indonesia Retail Summit & Expo 2026, Haryanto Pratantara, menilai Indonesia memiliki peluang besar mengembangkan wisata belanja karena harga produk domestik yang kompetitif dan variasi produk yang beragam.
Kondisi ini harus dimanfaatkan untuk menarik wisatawan asing dan mendorong masyarakat Indonesia berbelanja di dalam negeri. “Kalau kondisi tersebut bisa terus dijaga, seharusnya Indonesia dapat menarik lebih banyak turis lagi karena tiga unsur utama pariwisata sudah terpenuhi, yaitu objek wisata, kuliner, dan shopping,” jelas Haryanto.
Indonesia Retail Summit & Expo 2026 hadir sebagai wadah bagi pelaku industri untuk meningkatkan kemampuan, memperluas jaringan, dan memperoleh inovasi terbaru. Acara ini mengusung tema “Rethinking Retail: The Future is Consumer-led” dengan menghadirkan berbagai sesi seminar, diskusi, pembicara, serta exhibitor.
Haryanto berharap penguatan ekosistem ritel nasional dapat membuat industri ini semakin kompetitif, baik di pasar domestik maupun global.
Ikuti DailyFX.ID
