— JAKARTA – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) mengalami pelemahan tajam pada penutupan perdagangan awal pekan, Senin, 21 September 2026. Rupiah ditutup melemah 89 poin atau 0,50% ke level Rp 17.847 per dolar AS, dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp 17.758 per dolar AS.

Direktur PT. Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, mengungkapkan bahwa pelemahan rupiah dipengaruhi oleh sentimen geopolitik yang belum mereda. Ketegangan di Timur Tengah masih menjadi perhatian utama, terutama setelah kelompok Houthi Yaman mengklaim telah menyerang lokasi “sensitif” di Riyadh, ibu kota Arab Saudi, menggunakan rudal dan drone. Serangan juga dilaporkan menyasar fasilitas Aramco di Yanbu, pusat ekspor minyak utama di tepi Laut Merah.

Selain itu, pelemahan rupiah juga terjadi menjelang pernyataan dari sejumlah pejabat Federal Reserve (The Fed). Pernyataan tersebut berpotensi memberikan petunjuk mengenai kemungkinan kenaikan suku bunga lanjutan pada Oktober mendatang, yang dapat memengaruhi pergerakan mata uang global.

Dari dalam negeri, perhatian pasar tertuju pada kebijakan teknis pemerintah terkait pembentukan bursa komoditas yang bertujuan mengendalikan harga. Ibrahim menjelaskan bahwa Otoritas Jasa Keuangan (OJK) akan mengatur produk yang diperdagangkan serta tahapan perdagangannya melalui aturan tersendiri. OJK mempertimbangkan kesiapan infrastruktur, stabilitas keuangan, dan integritas pasar. Pengaturan bursa komoditas ini akan beralih dari Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) ke OJK mulai 1 Januari tahun depan.