— Nilai tukar rupiah diprediksi akan melanjutkan tren pelemahannya terhadap dolar Amerika Serikat (USD) pada perdagangan Rabu, 23 September 2026. Pelemahan ini terjadi setelah rupiah ditutup turun 37 poin atau 0,21% ke level Rp 17.884 per dolar AS pada Selasa (22/9/2026).

Direktur PT. Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, memperkirakan mata uang rupiah akan bergerak fluktuatif namun cenderung melemah di kisaran Rp 17.880 hingga Rp 17.930 per dolar AS pada perdagangan hari ini. Menurutnya, rupiah saat ini berada dalam posisi yang rentan akibat sentimen negatif yang berkepanjangan.

Sentimen tersebut antara lain berasal dari konflik antara Amerika Serikat dan Iran. Ketegangan semakin meluas dengan serangan yang dilancarkan kelompok Houthi di Yaman terhadap wilayah Arab Saudi, yang turut menimbulkan kendala pada jalur ekspor negara tersebut. Selain itu, investor juga mencermati rencana pertemuan antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden Tiongkok Xi Jinping yang membahas isu perdagangan dan geopolitik.

“Tiongkok merupakan importir minyak terbesar di dunia, sehingga prospek ekonomi dan hubungan perdagangannya menjadi faktor penting bagi permintaan minyak mentah,” ujar Ibrahim.

Faktor eksternal lainnya yang menekan rupiah adalah ekspektasi pasar yang luas mengenai kelanjutan kenaikan suku bunga oleh Federal Reserve (The Fed). “Prospek kebijakan yang lebih ketat memberikan dukungan bagi dolar AS dan menjaga imbal hasil obligasi Treasury tetap tinggi,” jelas Ibrahim.

Dari dalam negeri, Ibrahim menyebutkan bahwa keputusan pergantian Menteri Keuangan dari Purbaya Yudhi Sadewa ke Suahasil Nazara pada pekan lalu turut memengaruhi sentimen mata uang. Kenaikan harga minyak global juga menambah tekanan bagi negara pengimpor energi seperti Indonesia. Perhatian juga tertuju pada revisi Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 yang berpotensi memungkinkan defisit anggaran lebih tinggi untuk mendanai program sosial dan kesejahteraan.

Menyikapi kondisi tersebut, Bank Indonesia (BI) berkomitmen untuk terus hadir di pasar guna memastikan mekanisme pasar berjalan lancar dan stabilitas nilai tukar rupiah terjaga sesuai fundamentalnya. BI akan melakukan intervensi secara konsisten dan berkesinambungan melalui berbagai instrumen.

“Intervensi pun akan terus dilakukan secara konsisten dan berkesinambungan melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore, transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik, disertai pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder. Posisi cadangan devisa sebesar US$ 146,5 miliar masih cukup untuk intervensi di pasar,” papar Ibrahim.