DailyFX.ID — JAKARTA – Saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) menunjukkan pergerakan tak terduga pada perdagangan Senin (24/8/2026). Emiten bank besar ini secara tiba-tiba mencatatkan aksi jual bersih atau net sell oleh investor asing pada sesi I.
Berdasarkan data Stockbit Sekuritas, net sell asing untuk saham BBRI tercatat mencapai volume 50,54 juta saham. Nilai transaksi jual bersih ini diperkirakan mencapai sekitar Rp 160,84 miliar.
Akibat dari aksi jual tersebut, harga saham Bank Rakyat Indonesia terpantau anjlok 2,17% ke level Rp 3.160. Total saham yang ditransaksikan mencapai 103,9 juta dengan frekuensi sebanyak 24.817 kali, membukukan nilai transaksi keseluruhan Rp 330,64 miliar.
Perubahan mendadak ini kontras dengan performa saham BBRI pada perdagangan Jumat (21/8/2026) pekan sebelumnya. Saat itu, saham BBRI justru melonjak 2,87% dan mencatat net buy investor asing sebesar Rp 628,49 miliar.
Rekomendasi Analis
Di tengah fluktuasi ini, CGS International Sekuritas memberikan rekomendasi Spec Buy untuk saham BBRI pada Senin (24/8/2026). Analis menyarankan level support di 3.170 dan cutloss jika harga menembus di bawah 3.110. Jika harga bertahan di atas 3.170, saham BBRI diproyeksikan berpotensi naik ke kisaran 3.290-3.350 dalam jangka pendek.
Sementara itu, KB Valbury Sekuritas mempertahankan rekomendasi buy untuk saham BBRI. Target harga yang ditetapkan menggunakan metode Gordon Growth Model (GGM) adalah sebesar Rp 4.010.
Target harga tersebut setara dengan rasio price to book value (P/B) sebesar 1,8 kali untuk proyeksi tahun 2026. Saat ini, saham BBRI diperdagangkan pada valuasi yang dinilai sangat murah, yaitu P/B 2026 sebesar 1,2 kali, sedikit di bawah level -2 standar deviasi (-2SD) yang berada di angka 1,5 kali.
Potensi Katalis Positif
Beberapa faktor dinilai dapat menjadi katalis positif bagi saham BBRI. Pertama, potensi pertumbuhan kredit yang melampaui ekspektasi, ditambah dengan penyesuaian imbal hasil kredit secara moderat. Hal ini diharapkan dapat membantu net interest margin (NIM) melampaui panduan tahun 2026.
Kedua, potensi cost of credit (CoC) yang lebih rendah dari perkiraan seiring perbaikan kualitas aset. Faktor ini dianggap krusial untuk mendukung pertumbuhan laba BRI di tahun 2026.
Selanjutnya, potensi pendapatan non-bunga yang lebih kuat juga diprediksi menjadi katalis utama bagi pertumbuhan pre-provision operating profit (PPOP).
Risiko yang Perlu Diperhatikan
Meskipun demikian, terdapat pula sejumlah risiko utama yang perlu diwaspadai investor. Risiko tersebut meliputi pertumbuhan kredit yang lebih lemah dari perkiraan, rasio biaya terhadap pendapatan yang lebih tinggi dari estimasi, serta potensi kenaikan pencadangan yang jauh lebih besar.
Selain itu, sentimen negatif domestik yang berlanjut dan tekanan terhadap nilai tukar rupiah juga berpotensi terus menekan sentimen pasar terhadap saham BBRI.
Ikuti DailyFX.ID
