— JAKARTA – Saham PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) mengalami pelemahan tipis 0,90% ke level Rp 24.900 pada perdagangan Senin, 10 Agustus 2026. Perdagangan saham emiten batu bara ini mencatatkan frekuensi 2.173 kali dengan nilai transaksi mencapai Rp 17,45 miliar, melalui 697,8 ribu saham yang ditransaksikan. Investor membukukan aksi jual bersih atau net sell senilai Rp 3,26 miliar pada saham ITMG.

Meskipun mengalami pelemahan pada hari itu, saham ITMG tercatat menguat 8,26% dalam periode satu bulan terakhir. Dari sisi valuasi, ITMG dinilai atraktif dengan rasio price to book value (PBV) yang masih berada di bawah 1 kali, yaitu tepatnya 0,83 kali. Rasio PBV ini mengukur perbandingan harga saham di pasar dengan nilai buku per sahamnya.

Sementara itu, rasio price earning ratio (PER) ITMG berada di angka 7,71 kali secara annualized, yang membandingkan harga saham pasar dengan laba per saham yang disetahunkan. Kapitalisasi pasar atau market cap PT Indo Tambangraya Megah Tbk mencapai Rp 28,13 triliun.

Sepanjang paruh pertama tahun 2026, emiten batu bara ini berhasil membukukan pendapatan bersih atau omzet senilai US$ 1 miliar, atau setara dengan Rp 17 triliun berdasarkan kurs konversi dalam laporan keuangan perusahaan. Pendapatan ini menunjukkan peningkatan sebesar 9% dibandingkan periode yang sama di tahun sebelumnya.

Menurut manajemen ITMG, kenaikan pendapatan tersebut didukung oleh peningkatan volume penjualan sebesar 5% dan kenaikan harga jual rata-rata atau average selling price (ASP) sebesar 4% secara year on year. Peningkatan ASP ini sejalan dengan penguatan harga acuan batu bara.

Perusahaan melaporkan laba periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar US$ 105,99 juta atau sekitar Rp 1,8 triliun. Angka ini merupakan kenaikan 16,5% dari periode sebelumnya yang tercatat US$ 90,97 juta.

Valuasi Saham Batu Bara dan Proyeksi Analis

Meskipun valuasi saham batu bara dinilai belum sepenuhnya mencerminkan fundamental akibat ketidakpastian kebijakan pasar, saham PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) dan PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) tetap menjadi pilihan utama BRI Danareksa Sekuritas (BRIDS). Broker sekuritas ini mematok target harga untuk ITMG di Rp 34.000.

Analis BRI Danareksa Sekuritas, Erindra Krisnawan dan Kafi Ananta, memperkirakan harga batu bara akan kembali normal pada semester II-2026, namun tidak akan mengalami penurunan drastis. Risiko penurunan harga batu bara diperkirakan tertahan oleh percepatan pemenuhan kewajiban pasar domestik dan preferensi pembeli untuk mempertahankan tingkat persediaan.

Data mingguan terbaru menunjukkan Indonesian Coal Index 3 (ICI3) mencapai US$ 84 per ton dan ICI4 sebesar US$ 64,6 per ton. Kedua indeks harga ini telah mencapai puncaknya pada Juni 2026 dan mengalami penurunan moderat dalam beberapa pekan terakhir. Keseimbangan pasokan dan permintaan selama lima bulan pertama 2026 tercatat lebih ketat, meski belum sepenuhnya mencapai skala guncangan moderat.

“Revisi naik dalam rencana kerja dan anggaran biaya (RKAB) berpotensi membuka tambahan pasokan pada semester II-2026,” tulis Erindra dan Kafi dalam riset mereka pada Rabu, 22 Juli 2026. Persetujuan revisi RKAB menjadi variabel terpenting, dengan perkiraan terbit dalam waktu 1 hingga 1,5 bulan setelah pengajuan awal Juli. Risiko terkait Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) diperkirakan mereda, meskipun masih ada ketidakpastian mengenai komitmen pembeli untuk kontrak pada 2027.

Prospek Kinerja dan Rekomendasi Saham

BRI Danareksa Sekuritas memperkirakan pendapatan perusahaan batu bara akan meningkat secara kuartalan (quarter on quarter/qoq) pada kuartal II-2026. Kenaikan ini didukung oleh peningkatan produksi, volume penjualan, dan harga ekspor. Namun, kenaikan harga jual rata-rata (ASP) batu bara kemungkinan akan tertinggal dibandingkan peningkatan harga indeks acuan karena porsi penjualan domestic market obligation (DMO) yang lebih besar.

Peningkatan biaya operasional diperkirakan akan mengimbangi sebagian besar manfaat dari pertumbuhan pendapatan. Salah satu penyebab utamanya adalah kenaikan harga high speed diesel (HSD) domestik sebesar 35-40% qoq. HSD merupakan bahan bakar diesel vital untuk kegiatan operasional pertambangan, termasuk alat berat dan pengangkutan batu bara.

BRI Danareksa Sekuritas mempertahankan pandangan overweight untuk sektor batu bara, namun pandangan taktis 3 bulan diturunkan menjadi netral. Sektor ini belum sepenuhnya pulih pasca isu DSI, dengan rasio price to earnings ratio (PER) sebesar 6,1 kali, mengindikasikan pasar masih memperhitungkan ketidakpastian kebijakan.

Dalam jangka pendek, kenaikan harga saham sektor batu bara diperkirakan terbatas akibat normalisasi harga komoditas dan risiko kinerja kuartal II-2026. “Kami tetap menyukai emiten yang memiliki katalis spesifik perusahaan, dukungan dividen, dan ruang aman dari sisi valuasi,” ungkap Erindra.

BRI Danareksa Sekuritas menetapkan saham PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) dan PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) sebagai pilihan utama di sektor batu bara, dengan rekomendasi beli. Target harga yang dipasang adalah Rp 12.400 untuk AADI dan Rp 34.000 untuk ITMG.

“Titik masuk yang lebih menarik berpotensi muncul setelah publikasi kinerja kuartal II-2026. Namun, itu bergantung pada persetujuan revisi RKAB, berkurangnya risiko implementasi DSI, dan berlanjutnya pemulihan volume produksi pada semester II-2026,” pungkasnya.