— Indeks-indeks saham Wall Street menunjukkan penguatan signifikan pada perdagangan Senin, 21 September 2026, dengan sektor teknologi menjadi pendorong utama kenaikan. Penguatan ini terjadi di tengah penurunan harga minyak dan imbal hasil obligasi Amerika Serikat. Nasdaq Composite berhasil mencetak rekor penutupan tertinggi sepanjang masa.

Secara rinci, indeks S&P 500 ditutup naik 1,49% ke level 7.764,70. Nasdaq Composite melesat 2,26% dan menembus rekor baru di angka 27.122,09. Sementara itu, Dow Jones Industrial Average bertambah 366,19 poin atau 0,71% menjadi 52.048,83.

Lonjakan saham-saham teknologi menjadi motor penggerak utama bursa Wall Street. Saham Intel melonjak 12,2%, disusul oleh Advanced Micro Devices (AMD) yang menguat sekitar 10% hingga membawa kapitalisasi pasarnya melampaui US$ 1 triliun untuk pertama kalinya. Saham Qualcomm juga mencatatkan kenaikan lebih dari 9%.

Kinerja positif ini membantu pasar saham AS bangkit setelah pekan sebelumnya dilanda tekanan. Pada pekan lalu, Dow Jones anjlok 1,7%, menjadi kinerja mingguan terburuk sejak Maret. S&P 500 turun sekitar 0,1%, meskipun Nasdaq masih mampu membukukan kenaikan 0,7%.

Sentimen pasar juga mendapat dorongan positif dari penurunan harga minyak mentah. Minyak mentah AS dilaporkan turun 4,5% menjadi US$ 95,78 per barel, sementara Brent melemah 3,4% ke level US$ 100,34 per barel.

Penurunan harga minyak ini terjadi setelah eskalasi konflik di Timur Tengah meningkat pada akhir pekan. Kelompok Houthi yang didukung Iran mengklaim telah melancarkan serangan rudal dan drone ke Arab Saudi pada Sabtu.

Menanggapi situasi tersebut, Departemen Luar Negeri AS mengeluarkan peringatan kepada warga Amerika untuk mempertimbangkan kembali rencana perjalanan ke Timur Tengah. Peringatan ini dikeluarkan di tengah saling ancam antara Amerika Serikat dan Iran untuk melakukan serangan balasan.

Meskipun demikian, peluang diplomasi masih terbuka. Presiden AS Donald Trump menyatakan kepada Fox News bahwa dirinya kemungkinan terbuka untuk bertemu dengan Presiden Iran Masoud Pezeshkian dalam agenda Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pekan ini.

Penurunan harga minyak turut berkontribusi pada meredanya tekanan di pasar obligasi. Imbal hasil obligasi AS bertenor 10 tahun turun lebih dari 4 basis poin menjadi 4,951%, sementara imbal hasil obligasi 30 tahun turun ke 5,284%.

The Fed Masih Jadi Perhatian

Meskipun pasar saham mengalami penguatan, para investor tetap mencermati prospek inflasi dan suku bunga di Amerika Serikat. Federal Reserve (The Fed) baru saja menaikkan suku bunga pada pekan lalu, menandai kenaikan pertama dalam tiga tahun terakhir.

“Harga energi yang bertahan tinggi dalam jangka waktu lebih lama semakin memperkuat alasan bagi The Fed untuk kembali memperketat kebijakan moneter,” tulis Presiden Yardeni Research Ed Yardeni dalam catatannya.

Yardeni menambahkan bahwa risiko terhadap pasokan energi masih belum sepenuhnya hilang. Konflik di Timur Tengah terus mengancam produksi dan pengiriman minyak. Selain itu, serangan Ukraina terhadap kilang Rusia serta sanksi terhadap Rusia turut membatasi pasokan bahan bakar global.

“Semakin lama guncangan energi ini berlangsung, semakin besar risiko munculnya dampak inflasi putaran kedua,” tulisnya.

Situasi ini membuat pertemuan Presiden Trump dan Presiden China Xi Jinping pekan ini menjadi perhatian pasar. Pertemuan tersebut dijadwalkan untuk membahas sejumlah isu penting, termasuk kecerdasan buatan (AI), tarif, dan mineral kritis.

Kepala ekonom LPL Financial, Jeffrey Roach, menyatakan bahwa konflik geopolitik yang mendorong kenaikan harga energi juga menjadi faktor yang membuat The Fed cenderung mempertahankan kebijakan moneter yang ketat atau hawkish, serta menekan sektor penyulingan di China.

“Komite yang dipimpin Ketua Fed Kevin Warsh telah mengaitkan prospek inflasinya dengan stabilisasi pasar minyak, sementara kalkulasi fiskal Beijing juga bergantung pada variabel yang sama,” tulis Roach.