DailyFX.ID — Pemerintah Indonesia berkolaborasi erat dengan sektor perbankan untuk memperkuat strategi demi mencapai target ambisius pertumbuhan ekonomi sebesar 8 persen pada tahun 2029. Sinergi ini menjadi kunci utama dalam menghadapi ketidakpastian global dan menarik investasi.
Diskusi mendalam mengenai langkah-langkah strategis ini dilaksanakan dalam acara UOB Media Editors Circle yang bertajuk “Reclaiming Global Trust: Indonesia’s Investment Agenda for a Volatile World” di Jakarta pada Selasa, 15 September 2026. Pertemuan ini menggarisbawahi pentingnya kolaborasi antara pemerintah dan lembaga keuangan.
Realisasi investasi memegang peranan krusial dalam pertumbuhan ekonomi nasional, menyumbang sekitar 26 hingga 30 persen. Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM memperkirakan Indonesia membutuhkan konsolidasi angka realisasi investasi mencapai Rp13.000 triliun selama lima tahun ke depan untuk mengamankan target pertumbuhan ekonomi tersebut.
Untuk memacu roda perekonomian dan meningkatkan daya tarik investasi di tengah gejolak global, pemerintah telah meluncurkan berbagai terobosan regulasi yang berfokus pada penyederhanaan birokrasi. Salah satu inisiatif unggulan melalui program Quick Wins adalah sistem Kemudahan Investasi Langsung Konstruksi (KLIK) atau Parallel Process.
Melalui kebijakan ini, investor diberikan izin langsung untuk memulai pembangunan pabrik atau proyek di kawasan industri, bahkan sebelum izin dasar mereka sepenuhnya terurus. Selain itu, pemerintah juga menerapkan sistem fiktif positif, yang secara otomatis menganggap permohonan izin disetujui apabila tidak ada respons dari pihak pemerintah dalam batas waktu yang ditentukan.
Direktur Promosi Wilayah Asia Tenggara, Australia, Selandia Baru, dan Pasifik Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM, Saribua Siahaan, menekankan pentingnya kepastian hukum sebagai daya tarik utama bagi investor. “Pemerintah memberikan terobosan industri agar investor punya kepastian mengenai lahan, lokasi, dan kebutuhan bisnis mereka. Jika kebutuhan dasar ini dipenuhi sebelum mereka memutuskan berinvestasi, target pertumbuhan ekonomi delapan persen bisa tercapai. Kuncinya ada pada pengemasan koordinasi yang kuat antara kementerian dan daerah,” ujar Saribua.
Lebih lanjut, pemerintah juga memastikan bahwa masuknya modal asing memberikan dampak positif langsung bagi ekonomi daerah. Perusahaan asing didorong untuk berkolaborasi dengan pelaku usaha lokal, termasuk dalam pemanfaatan jasa katering atau konveksi dari pengusaha setempat. Strategi ini diharapkan dapat menciptakan lingkungan bisnis yang stabil sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Head of Corporate Banking UOB Indonesia, Edwin Kadir, membenarkan kebutuhan akan kepastian hukum ini. Menurutnya, di tengah ketidakpastian domestik dan global, dunia usaha sangat membutuhkan prediktabilitas dan fleksibilitas. “Dunia usaha sebetulnya sudah memperhitungkan risiko bisnis seperti naik turunnya harga minyak atau permintaan pasar. Namun, yang mereka cari adalah kepastian aturan hukum dan kenyamanan usaha guna menciptakan Sustainable Business Framework. Pemerintah, pelaku usaha, dan perbankan harus melakukan upaya kolektif untuk memastikan pertumbuhan ekonomi ini berjalan menuju target delapan persen,” jelas Edwin.
Untuk merebut kembali kepercayaan global, pemerintah berkomitmen menjaga stabilitas regulasi, kemudahan birokrasi, dan transparansi transfer dana ke daerah. Upaya membangun ekosistem investasi yang sehat ini mendapat dukungan penuh dari sektor perbankan, termasuk Bank UOB.
Berdasarkan data UOB Business Outlook Study, pelaku usaha di Indonesia juga aktif memperkuat ketahanan bisnis melalui digitalisasi dan diversifikasi rantai pasok di kawasan ASEAN untuk menghadapi volatilitas ekonomi global.
ASEAN Economist UOB Enrico Tanuwidjaja mengungkapkan bahwa posisi Indonesia dalam menarik modal asing langsung (Foreign Direct Investment/FDI) masih menghadapi tantangan konsolidasi. Ia membeberkan bahwa berdasarkan laporan terakhir pada tahun 2025, terjadi sedikit penahanan modal (pullback) karena investor global cenderung bersikap menunggu dan melihat perkembangan (wait and see).
Meskipun demikian, optimisme pasar terhadap Indonesia tidak surut, melainkan mengalami pergeseran komitmen investasi ke sektor masa depan seperti energi hijau (green energy) serta peningkatan aktivitas merjer dan akuisisi (M&A). “Sebenarnya dari report terakhir 2025, itu ada sedikit pullback. Tapi jangan salah, mereka tetap optimis, cuma dia pindah. Jadi lebih ke arah yang nanti gitu, seperti future commitment of green energy lalu M&A itu meningkat,” bebernya.
Enrico menegaskan bahwa daya saing Indonesia ke depan akan sangat bergantung pada pembuktian nyata berupa eksekusi di lapangan. Isu-isu krusial yang menjadi sorotan investor seperti legalitas, kepastian hukum, dan pengadaan lahan (land acquisition) harus segera diselesaikan dengan aksi nyata untuk membangun kembali kepercayaan domestik maupun global secara cepat dan terukur.
Ikuti DailyFX.ID
