DailyFX.ID — Perdebatan mengenai suku bunga di Amerika Serikat selama ini hampir selalu berpusat pada satu pertanyaan: kapan Federal Reserve (The Fed) akan mulai menurunkannya kembali? Namun, pertanyaan tersebut mungkin sudah perlu diubah menjadi apakah tingkat bunga yang lebih tinggi justru sedang menjadi keadaan normal baru.
Saat ini, imbal hasil (yield) US Treasury 10 tahun telah menembus 5% dan sempat mencapai sekitar 5,04% pada minggu ini, angka tertinggi sejak tahun 2007. Inflasi masih berada jauh di atas target yang ditetapkan The Fed, sementara ekspektasi inflasi rumah tangga untuk beberapa tahun ke depan bergerak di kisaran 3–3,5%. Jika kondisi ini bertahan, fokus perdebatan bisa bergeser dari kapan bunga kembali murah menjadi penerimaan suku bunga tinggi sebagai kenormalan baru.
Bukan Lagi Sekadar Kebijakan The Fed
Selama lebih dari satu dekade setelah krisis keuangan global, dunia terbiasa dengan kondisi uang murah. Inflasi yang rendah, globalisasi yang menekan biaya produksi, pasokan energi yang relatif murah, serta bank sentral yang menyediakan likuiditas besar menjadi faktor penopangnya. Namun, sebagian besar kondisi tersebut kini telah berubah.
Pergeseran geopolitik global membuat ekonomi dunia menjadi semakin tidak efisien. Rantai pasok (supply chain) yang sebelumnya dibangun semata-mata berdasarkan biaya terendah kini diduplikasi demi keamanan dan ketahanan (resilience). Belanja pertahanan juga mengalami peningkatan signifikan. Sektor-sektor strategis seperti semikonduktor, keamanan siber (cyber security), drone, dan teknologi penting lainnya kini semakin diperlakukan sebagai bagian dari keamanan nasional (national security).
Di sisi lain, revolusi kecerdasan buatan (AI) membutuhkan investasi yang sangat besar. Kebutuhan ini mencakup pusat data (data center), chip, pasokan listrik, dan berbagai infrastruktur digital lainnya. Meskipun AI pada akhirnya berpotensi meningkatkan produktivitas, pada tahap awal ini justru menciptakan kebutuhan modal yang sangat besar.
Kondisi ini berarti bukan hanya pemerintah yang membutuhkan pembiayaan lebih besar, tetapi sektor swasta juga. Ketika kebutuhan modal meningkat, pasokan tetap terbatas (supply constraints), dan investor menuntut kompensasi lebih tinggi terhadap inflasi serta risiko, maka harga uang secara otomatis akan ikut naik.
The Fed dan Realitas Inflasi Baru
The Fed tetap memegang teguh target inflasi 2%. Target ini penting karena berfungsi sebagai jangkar ekspektasi pasar. Namun, target formal dan realitas pasar tidak selalu sejalan.
Jika ekspektasi inflasi untuk beberapa tahun ke depan bertahan di sekitar 3–3,5%, The Fed akan menghadapi kesulitan untuk kembali ke pola bunga sangat rendah tanpa risiko ekspektasi inflasi bergerak lebih tinggi lagi. Membawa inflasi kembali secara konsisten ke 2% memang masih mungkin, tetapi mungkin harus dibayar dengan pertumbuhan ekonomi yang lebih lambat, biaya investasi yang lebih mahal, dan risiko pengangguran yang lebih tinggi.
Di sinilah persoalan kredibilitas The Fed muncul. Kredibilitas tidak serta-merta hilang hanya karena target belum tercapai. Namun, jika kesenjangan (gap) antara target, kebijakan, dan realitas berlangsung terlalu lama, pasar akan mulai mempertanyakan tidak hanya kapan target tersebut akan tercapai, tetapi juga berapa biaya ekonomi yang harus dibayar.
Oleh karena itu, perusahaan dan investor dapat tetap menghormati target inflasi 2% The Fed, sambil menggunakan inflasi sekitar 3–3,5% sebagai asumsi kerja (working assumption) untuk beberapa tahun ke depan.
Treasury 5% Menjadi Normal Baru?
Dari sisi pemerintah, ukuran yang lebih penting adalah imbal hasil Treasury 10 tahun. Imbal hasil jangka panjang pada dasarnya mencerminkan kombinasi ekspektasi inflasi, tingkat bunga riil, dan premi tambahan yang diminta investor untuk memegang obligasi dalam jangka panjang.
Jika ekspektasi inflasi berada di sekitar 3–3,5%, tingkat bunga riil tetap positif, dan investor menuntut kompensasi tambahan karena pasokan utang serta ketidakpastian fiskal, maka imbal hasil sekitar 5% mulai terlihat bukan sebagai angka ekstrem, tetapi sebagai hasil yang cukup masuk akal.
Hal ini juga menjelaskan mengapa program pembelian kembali (buyback) Treasury belum berhasil menurunkan imbal hasil secara berarti. Program buyback memang dapat memperbaiki likuiditas dan membantu pasar berfungsi lebih lancar. Namun, program tersebut tidak dapat memaksa investor menerima imbal hasil yang lebih rendah jika harga fundamental modal memang sudah berubah. Defisit anggaran menjadi bagian penting dari persoalan ini.
US Congressional Budget Office (CBO) memperkirakan defisit federal pada tahun 2026 sebesar 5,8% dari PDB dan meningkat menjadi 6,7% pada tahun 2036. Dalam situasi politik dan geopolitik saat ini, asumsi bahwa defisit akan segera kembali ke 2–3% semakin sulit digunakan. Defisit yang berada di kisaran 4–5%, bahkan lebih tinggi, tampaknya semakin menjadi bagian dari realitas baru.
Pasar keuangan tidak serta-merta menyukai kondisi ini. Pasar menerimanya dengan meminta harga yang lebih tinggi untuk membiayai defisit tersebut.
Investor Global Juga Punya Pilihan
Selama puluhan tahun, Amerika Serikat menikmati kemampuan untuk menarik tabungan dunia ke dalam instrumen Treasury. Namun, daya tarik relatif (relative attractiveness) Treasury kini mulai berubah.
Imbal hasil Japanese Government Bonds (JGB) 10 tahun Jepang kini berkisar 3%, angka tertinggi dalam tiga dekade terakhir. Investor Jepang sekarang dapat memperoleh imbal hasil yang jauh lebih menarik di dalam negeri tanpa risiko mata uang. Meskipun belum terjadi eksodus besar-besaran dari Treasury, perhitungan investor jelas telah berubah.
Situasi China sedikit berbeda. Imbal hasil domestiknya lebih rendah sehingga Treasury AS tetap menarik secara finansial. Namun, kepemilikan Treasury oleh China terus menurun, dan pertimbangan geopolitik serta diversifikasi aset dolar semakin relevan.
Masalah bagi Amerika Serikat bukanlah bahwa Jepang atau China akan berhenti membeli Treasury. Masalahnya adalah Amerika Serikat tidak lagi dapat menganggap permintaan tersebut sebagai sesuatu yang tanpa syarat. Jika investor memiliki alternatif yang lebih menarik, atau mulai menilai US Treasury (UST) tidak lagi sepenuhnya bebas risiko, mereka akan menuntut premi tambahan.
Resesi Belum Tentu Kembalikan Uang Murah
Dalam pola lama, resesi biasanya diikuti oleh penurunan inflasi dan pemotongan suku bunga. Namun, hal itu belum tentu berlaku jika perlambatan ekonomi terjadi bersamaan dengan kendala pasokan (supply constraints), harga energi yang mahal, dan ketegangan geopolitik yang tetap tinggi.
Amerika Serikat bahkan bisa menghadapi stagflasi, yaitu pertumbuhan ekonomi yang melemah tetapi inflasi tetap tinggi. Dalam keadaan seperti itu, The Fed tidak memiliki ruang yang sama untuk memangkas suku bunga secara agresif. Sekalipun suku bunga kebijakan (policy rate) akhirnya turun, imbal hasil Treasury jangka panjang belum tentu kembali ke level lama karena tekanan fiskal, kebutuhan modal, dan premi risiko masih tetap tinggi. Artinya, bahkan perlambatan ekonomi belum tentu akan menghidupkan kembali era uang murah (cheap money).
Higher for Longer—and Here to Stay
Suku bunga acuan The Fed (Fed rate) akan tetap mengalami fluktuasi naik dan turun. Imbal hasil Treasury 10 tahun juga tentu tidak akan selalu berada tepat di 5%. Namun, yang sedang berubah mungkin adalah definisi yang lebih mendasar mengenai tingkat bunga yang dianggap normal.
Jika inflasi 3–3,5% semakin diterima sebagai realitas kerja (working reality), pemerintah terus menjalankan defisit anggaran yang besar, AI dan pertahanan membutuhkan investasi yang lebih besar, geopolitik mengurangi efisiensi, dan investor global memiliki lebih banyak alternatif, maka biaya keseimbangan uang (equilibrium cost of money) juga akan lebih tinggi.
Dari sana, seluruh sistem akan menyesuaikan diri: pinjaman korporasi, KPR, kartu kredit, pembiayaan proyek, hingga valuasi saham dan properti.
Era uang murah telah berakhir sebagai patokan dasar (baseline). Apakah ia akan kembali pada suatu titik? Bisa saja. Tetapi probabilitasnya dalam beberapa tahun ke depan jauh lebih kecil. Karena itu, konsep ‘higher for longer’ semakin layak dipandang bukan sekadar sebagai fase kebijakan, tetapi sebagai realitas baru yang kemungkinan besar akan bertahan.
Ikuti DailyFX.ID
