DailyFX.ID — Bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve (The Fed), telah menaikkan suku bunga acuannya ke kisaran 3,75%-4,00% pada Rabu, 16 September 2026. Pasar kini memperkirakan peluang hampir 80% untuk kenaikan suku bunga kedua sebelum akhir tahun 2026, berdasarkan data CME FedWatch Tool.
Alex Kuptsikevich, Kepala Analis Pasar di FxPro, memprediksi bahwa emas dapat mengalami peningkatan permintaan jika The Fed melanjutkan tren kenaikan suku bunga. “Skenario dasar bagi pasar berjangka suku bunga adalah pengetatan kebijakan moneter dan perkiraan FOMC bahwa mereka siap untuk melakukannya lagi pada tahun 2026. Hal ini akan menstabilkan dolar AS dan kemungkinan menekan imbal hasil obligasi pemerintah jangka panjang, seiring meredanya kekhawatiran bahwa The Fed kehilangan kendali atas situasi inflasi,” ujar Kuptsikevich.
Namun, Kuptsikevich juga menjelaskan bahwa skenario ini cukup menguntungkan bagi emas. “Jika Komite memperkirakan tiga kali kenaikan suku bunga dalam proyeksi terbarunya, mata uang dolar AS akan melonjak, sementara logam mulia akan menghadapi gelombang aksi jual,” tambahnya.
Saat ini, pasar emas tampak tenang menghadapi kenaikan suku bunga The Fed. Harga emas spot terpantau menguat 0,69% ke level US$4.292 per troy ounce pada Kamis siang (17/9).
Kuptsikevich menambahkan bahwa risiko penurunan jangka pendek bagi harga emas akan terjadi jika The Fed mengambil sikap yang lebih hawkish, melebihi perkiraan. Emas bisa mengalami aksi jual serupa jika Ketua The Fed, Kevin Warsh, tetap mempertahankan retorika agresif seperti yang disampaikannya dalam pidato di Jackson Hole.
Terlepas dari volatilitas jangka pendek, Kuptsikevich optimistis prospek harga emas untuk jangka menengah hingga panjang tetap positif, didukung oleh pelemahan dolar AS. “Selama tiga minggu terakhir, penguatan dolar AS dan kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS (Treasury) telah menekan harga emas yang tidak memberikan imbal hasil bunga ini. Namun, begitu nilai dolar AS melemah, harga emas segera bangkit kembali,” katanya.
Kuptsikevich menilai bahwa kenaikan suku bunga The Fed belum tentu berdampak positif bagi dolar AS. Langkah ini dapat memicu guncangan politik. “Kenaikan suku bunga dipastikan akan memicu ketidakpuasan di Gedung Putih, di mana tekanan terhadap The Fed turut mendorong tren investasi sebagai respons terhadap penurunan nilai mata uang (debasement trade). Masalah fiskal AS belum teratasi, dan upaya Departemen Keuangan untuk melakukan intervensi di pasar mata uang serta pasar utang justru meningkatkan permintaan terhadap aset keuangan terdesentralisasi. Dalam situasi seperti ini, penurunan harga emas sebagai respons atas keputusan The Fed untuk memulai siklus kenaikan suku bunga dapat menciptakan kondisi yang ideal untuk membeli logam mulia tersebut,” imbuhnya.
Ikuti DailyFX.ID
