— JAKARTA – Suahasil Nazara kini resmi menjabat sebagai Menteri Keuangan, menggantikan posisi Purbaya Yudhi Sadewa. Pelantikan ini diharapkan membawa angin segar bagi arah kebijakan fiskal negara, namun sejumlah pekerjaan rumah besar masih membayangi. Tantangan utama meliputi upaya menjaga defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) agar tidak melebihi batas yang ditetapkan, serta langkah-langkah strategis untuk memperkuat penerimaan negara.

Presiden Prabowo Subianto melantik Suahasil Nazara sebagai Menteri Keuangan di Istana Negara, Jakarta, pada Senin (14/9/2026). Sebelumnya, Suahasil telah mengabdikan diri sebagai Wakil Menteri Keuangan. Pergantian ini menandai perubahan ketiga pada pucuk pimpinan Kementerian Keuangan selama masa pemerintahan Presiden Prabowo.

Prof Rosdiana Sijabat, Guru Besar Bidang Ekonomi Bisnis sekaligus Wakil Rektor Bidang Inovasi, Penelitian, Kerja Sama dan Alumni Unika Atma Jaya, menilai bahwa pergantian Menteri Keuangan yang terjadi dalam rentang waktu relatif singkat menjadi sebuah tantangan tersendiri bagi keberlangsungan dan konsistensi kebijakan ekonomi.

“Pergantian Menteri Keuangan sebanyak tiga kali dalam waktu kurang dari tiga tahun merupakan hal yang jarang terjadi dan menunjukkan bahwa pengelolaan perekonomian membutuhkan konsistensi kebijakan. Ekonomi tidak bisa dikelola dengan pendekatan coba-coba, sehingga pergantian kepemimpinan perlu tetap diikuti dengan kesinambungan arah kebijakan,” ujar Rosdiana dalam keterangan persnya, Rabu (16/9/2026).

Meskipun demikian, Rosdiana mengamati adanya respons positif dari pasar terhadap penunjukan Suahasil. Hal ini memberikan secercah harapan terhadap arah kebijakan fiskal di masa mendatang.

Menurut Rosdiana, respons positif pasar tersebut tidak lepas dari rekam jejak dan pengalaman panjang Suahasil di lingkungan Kementerian Keuangan. Pengalamannya mencakup posisi sebagai Kepala Badan Kebijakan Fiskal serta mendampingi Sri Mulyani Indrawati saat menjabat sebagai Wakil Menteri Keuangan.

Pengalaman ini menjadi bekal berharga bagi Suahasil dalam memahami karakteristik serta pengelolaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) secara mendalam.

“Pendekatan fiskal yang prudent ini kemungkinan menjadi salah satu hal yang diapresiasi pasar. Dalam kondisi tekanan fiskal seperti sekarang, tantangannya bukan sekadar mendorong kebijakan yang agresif, tetapi bagaimana tetap menjaga kehati-hatian fiskal sekaligus menciptakan ruang untuk mendorong pertumbuhan ekonomi,” ungkapnya.

Defisit dan Penerimaan Negara Jadi Sorotan

Rosdiana mengidentifikasi salah satu tantangan utama yang akan dihadapi Suahasil adalah menjaga disiplin fiskal di tengah berbagai tekanan yang dihadapi APBN. Ia secara khusus menyoroti risiko defisit APBN yang berpotensi mendekati batas 3% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

Di sisi lain, penerimaan negara masih menghadapi kendala signifikan, terutama terkait kemampuan pengumpulan pajak atau tax capacity yang relatif masih rendah. Risiko target penerimaan pajak pada tahun 2026 yang belum tercapai secara optimal juga perlu menjadi perhatian serius, terlebih kebutuhan belanja pemerintah terus meningkat.

“Beban utang dan kebutuhan pembiayaan pemerintah yang besar juga menjadi tantangan, karena dapat menimbulkan fiscal crowding out dan mempersempit ruang pembiayaan bagi sektor swasta,” jelas Rosdiana.

Lebih lanjut, ia menambahkan bahwa ketidakpastian yang terjadi di kancah internasional dan situasi geopolitik global juga berpotensi menambah tekanan terhadap fiskal Indonesia. Salah satu dampaknya adalah fluktuasi harga minyak dunia yang dapat meningkatkan beban subsidi energi. “Kalau kondisi seperti ini terjadi, tekanan terhadap fiskal kita tentu akan semakin besar,” ujar Rosdiana.

Di tengah kompleksitas tantangan tersebut, Rosdiana berharap pengalaman luas yang dimiliki Suahasil dapat memperkuat pengelolaan kebijakan fiskal. Selain itu, koordinasi yang efektif dengan kebijakan moneter juga menjadi kunci penting.

“Harapannya, Pak Suahasil bisa kembali membawa prinsip kehati-hatian dan disiplin dalam kebijakan fiskal, tetapi tetap memberikan ruang gerak bagi pemerintah untuk mendorong pertumbuhan ekonomi secara bertahap,” pungkasnya.

Ia menekankan bahwa pergantian Menteri Keuangan tidak serta-merta menjadi solusi tunggal untuk mengatasi berbagai persoalan fiskal yang ada. Namun, pemahaman mendalam Suahasil terhadap seluk-beluk APBN diharapkan dapat berkontribusi pada penguatan koordinasi antara kebijakan fiskal dan moneter.